Detail Article

Suplemen Nutrisi Oral Tinggi Kalori-Protein Memperbaiki Kondisi Hipofagia Pasien

dr. Dedyanto Henky S., M.Gizi, AIFO-K
Mei 19
Share this article
db0f14a1992aa35d1090e78763ebadb0.jpg
Updated 20/Mei/2026 .

Pasien yang dirawat di rumah sakit akibat penyakit akut sangat rentan mengalami ketidakseimbangan asupan kalori dan protein. Kondisi penyakit yang mendasarinya, respons inflamasi sistemik, berkurangnya nafsu makan, penggunaan berbagai obat-obatan, prosedur puasa diagnostik, serta ketidaknyamanan lingkungan rumah sakit menjadi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perburukan status gizi. Akibatnya, pasien mengalami penurunan berat badan dan massa otot, yang diperparah oleh tirah baring yang seringkali tidak dapat dihindari, terutama pada pasien lanjut usia. Suatu penelitian mengevaluasi efektivitas pemberian suplemen nutrisi oral sejak hari pertama masuk rumah sakit dibandingkan pemberian hanya saat diperlukan.

Pedoman nutrisi klinis internasional merekomendasikan pendekatan "semakin cepat semakin baik" dalam pemberian dukungan nutrisi, dimulai idealnya dalam 48 jam pertama perawatan. Strategi yang dianjurkan meliputi konseling diet, fortifikasi makanan, penggunaan suplemen nutrisi oral (oral nutritional supplements/ONS) khususnya yang tinggi protein dan padat energi. Meski demikian, bukti ilmiah mengenai waktu yang tepat untuk memulai pemberian ONS dalam konteks rawat inap masih sangat terbatas.

 

Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi efektivitas pemberian ONS secara sistematis sejak hari pertama masuk rumah sakit dibandingkan pemberian secara on-demand (hanya jika diperlukan, mulai hari ke-8). Studi ini merupakan uji klinis acak terkontrol (RCT), berlabel terbuka (open-label), single center. Sebanyak 391 pasien dinilai kelayakannya; 220 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dirandomisasi (1:1) menjadi 2 kelompok. Kriteria inklusi antara lain pasien dewasa (≥ 18 tahun), risiko malnutrisi berdasarkan skor NRS-2002 ≥ 3, hipofagia ringan-sedang (asupan makanan ≥ 50% dari kebutuhan kalori), dan perkiraan lama rawat ≥ 7 hari. Pasien dengan nutrisi artifisial, hipofagia berat, atau penyakit terminal dieksklusi. Intervensi pada 2 kelompok sebagai berikut:

  • Kelompok Intervensi (ONS): ONS tinggi protein dan padat energi (300 kkal, 18 g protein) diberikan minimal 2 kali/hari sejak hari pertama masuk rumah sakit.
  • Kelompok Kontrol (On-demand): ONS yang sama diberikan minimal 1 kali/hari mulai hari ke-8, hanya jika pasien tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara mandiri.

Seluruh pasien pada kedua kelompok mendapatkan konseling nutrisi dari ahli gizi terdaftar. Evaluasi dilakukan pada saat masuk (baseline), hari ke-8, dan saat keluar rumah sakit.

 

Sebanyak 201 pasien (100 kelompok sistematis; 101 kelompok on-demand) berhasil menyelesaikan evaluasi hingga akhir studi. Hasil analisis parameter dari penelitian ini:

Parameter primer

  • Phase angle (PhA) — indikator komposisi tubuh via BIA:
  • Hari ke-8: On-demand: −0,02° | ONS: +0,45° | Perbedaan antar kelompok: 0,47° (95%CI 0,31–0,62); p < 0,001
  • Saat keluar RS: On-demand: +0,33° | ONS: +0,82° | Perbedaan: 0,49° (95%CI 0,33–0,64); p < 0,001

Parameter Sekunder

  • Kekuatan otot (handgrip strength/HGS):
  • Hari ke-8: On-demand: +1,3 kg | ONS: +1,8 kg | p = 0,13 (tidak signifikan)
  • Saat keluar RS: On-demand: +2,9 kg | ONS: +3,7 kg | p = 0,042 (signifikan)
  • Asupan kalori (kkal/kg/hari):
  • Hari ke-8: On-demand: +4,2 | ONS: +11,7 | p < 0,001
  • Saat keluar RS: On-demand: +8,5 | ONS: +11,4 | p = 0,001
  • Asupan protein (g/kg/hari):
  • Hari ke-8: On-demand: +0,19 | ONS: +0,73 | p < 0,001
  • Saat keluar RS: On-demand: +0,54 | ONS: +0,72 | p < 0,001
  • Berat badan:
  • Hari ke-8: On-demand: −0,1 kg | ONS: +0,3 kg | p < 0,001
  • Saat keluar RS: On-demand: ±0,0 kg | ONS: +0,4 kg | p <0,001
  • Lama rawat inap (LOS):
  • On-demand: median 14 hari | ONS: median 12 hari | Selisih −2 hari; p = 0,044
  • Infeksi nosokomial: Tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok (p = 0,65)

Kepatuhan terhadap intervensi tergolong baik: 94,2% pada kelompok ONS hingga hari ke-8. ONS ditoleransi dengan baik oleh sebagian besar pasien; efek samping gastrointestinal jarang menyebabkan penghentian terapi.

 

Kesimpulan:

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian ONS tinggi protein dan padat energi secara sistematis sejak hari pertama rawat inap—dikombinasikan dengan konseling nutrisi—terbukti lebih unggul dibandingkan pendekatan reaktif (on-demand) dalam memperbaiki komposisi tubuh, fungsi otot, asupan protein-kalori, dan berat badan, serta mampu mempersingkat lama rawat inap. Manfaat ini konsisten pada seluruh subkelompok, dengan efek yang lebih besar pada pasien dengan risiko malnutrisi lebih tinggi (NRS-2002 ≥ 5).

 

Gambar: Ilustrasi 

Referensi:

  1. Cereda E, Borioli V, Caraccia M, Uggè A, De Simeis F, Bruno R, et al. Systematic high-calorie, high-protein oral nutritional support in hospitalized, moderately hypophagic patients at nutritional risk: a randomized-controlled trial. Clin Nutr. 2026;56:106532.
  2. Doganay, M., Halil, M.G., Uyar, M. et al. Prevalence of malnutrition risk in hospitalized patients: a large nationwide study. J Health Popul Nutr 2025;44:137.

 


Share this article
Related Articles