Detail Article
Atogepant Efektif sebagai Terapi Migrain Episodik pada Dewasa
dr. Allen
Agt 12
Share this article
00c8621eb1eb044943a4aecb95c8c490.jpg
Updated 12/Agt/2022 .

Migrain adalah salah satu masalah neurologis yang umum dijumpai dengan perkiraan prevalensi 15% di seluruh dunia. Migrain dianggap episodik bila jumlah hari mencapai 14 per bulan dan kronis bila sakit kepala terjadi 15 hari atau lebih per bulan dengan migrain setidaknya 8 hari per bulan. Hasil penelitian membuktikan efikasi atogepant yang diberikan secara oral menghasilkan penurunan jumlah hari migrain dan sakit kepala pada pasien dewasa dengan migrain episodik lebih besar secara signifikan.

Migrain ditandai dengan sakit kepala berulang, dengan setiap episode berlangsung selama 4-72 jam. Nyeri dirasakan berdenyut, intensitas nyeri sedang sampai berat, dan unilateral. Nyeri tersebut dapat disertai mual dan/atau muntah dan diperparah dengan aktivitas fisik rutin. Migrain dianggap episodik bila jumlah hari mencapai 14 per bulan dan kronis bila sakit kepala terjadi 15 hari atau lebih per bulan dengan migrain setidaknya 8 hari per bulan.

 

Untuk mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan, terdapat beberapa obat yang digunakan sebagai pencegahan. Obat pencegahan oral yang digunakan antara lain divalproex sodium, flunarizine, topiramate, propranolol, dan timolol.

Selain itu, terdapat obat injeksi seperti antibodi monoklonal yang menargetkan calcitonin gene-related peptide (CGRP) dan onabotulinumtoxinA.

 

Pada 28 September 2021, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat menyetujui atogepant, sebagai terapi pencegahan migrain episodik pada dewasa. Atogepant adalah antagonis reseptor CGRP oral yang dikembangkan untuk pencegahan migrain. Untuk melihat efikasi dan keamanan atogepant dalam mencegah migrain episodik pada pasien dewasa, terdapat penelitian tinjauan sistematis, meta-analisis. Studi tersebut mengidentifikasi 101 literatur potensial dan menyisakan dua literatur yang digunakan dalam meta-analisis ini. Kedua literatur tersebut merupakan studi multisenter, acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo, yang melibatkan total 1.550 pasien. Pasien mendapat terapi dalam 12 minggu yang dibagi dalam 4 kelompok, terdiri dari 314 pasien mendapat atogepant 10 mg sekali sehari, 411 pasien mendapat atogepant 30 mg sekali sehari, 417 mendapat atogepant 60 mg sekali sehari, dan 408 pasien mendapat plasebo.

 

Penilaian efikasi dilihat dari penurunan jumlah hari mengalami migrain, sakit kepala, dan penggunaan terapi untuk mengatasi serangan migrain setelah pemberian terapi selama 12 minggu. Pasien yang menggunakan atogepan 10 mg, 30 mg, ataupun 60 mg mendapatkan penurunan jumlah hari migrain yang lebih banyak secara signifikan bila dibandingkan dengan plasebo (p<0,001). Pasien yang menggunakan atogepan 10 mg, 30 mg, maupun 60 mg mendapatkan penurunan jumlah hari penggunaan terapi untuk mengatasi serangan migrain yang lebih banyak secara signifikan bila dibandingkan dengan plasebo (P<0.001).

 

Keamanan atogepant dilihat dari laporan kejadian yang tidak diinginkan (KTD) dan KTD serius. KTD dilaporkan oleh 56,3% pasien yang diobati dengan atogepant dan 53,4% pasien yang diobati dengan plasebo. KTD serius terjadi pada 0,6% pasien yang diberi atogepant dan 1,0% pasien yang diobati dengan plasebo. KTD yang paling umum pada seluruh pasien studi adalah sembelit, nasofaringitis, mual, infeksi saluran pernapasan atas, dan infeksi saluran kemih. Secara keseluruhan, mual lebih sering terjadi pada kelompok atogepant daripada plasebo (p = 0,010). Konstipasi lebih sering terjadi pada pasien yang diobati dengan atogepant 30 mg/hari dibandingkan plasebo (p = 0,001). Pengobatan dengan atogepant dengan dosis harian 60 mg dikaitkan dengan risiko konstipasi dan mual yang lebih tinggi (p = 0,001) dibandingkan plasebo (p = 0,001). KTD yang terjadi pada pasien atogepant 10 mg/hari sebanding dengan plasebo.

 

Hasil penelitian ini membuktikan efikasi atogepant yang diberikan secara oral pada dosis harian 10, 30, dan 60 mg menghasilkan penurunan jumlah hari migrain dan jumlah hari sakit kepala pada pasien dewasa dengan migrain episodik lebih besar secara signifikan daripada plasebo. Atogepant juga secara signifikan menurunkan jumlah hari penggunaan obat serangan migrain. Dari sisi keamanan, atogepant umumnya dapat ditoleransi dengan baik bila digunakan pada orang dewasa dengan migrain episodik dengan dosis 10, 30, dan 60 mg sekali sehari. Penelitian tersebut menyimpulkan penggunaan atogepant efektif dan dapat ditoleransi dengan baik untuk digunakan sebagai pencegahan migrain episodik pada pasien dewasa.



Gambar: Ilustrasi (Sumber: Foto oleh prostooleh-freepik)

Referensi:

1. Lattanzi S, Trinka E, Altamura C, del Giovane C, Silvestrini M, Brigo F, et al (2022). Atogepant for the prevention of episodic migraine in adults: A systematic review and meta-analysis of efficacy and safety. Neurology and Therapy 2022;11:1235-52. https://doi.org/10.1007/s40120-022-00370-8

2. Atogepant receives FDA approval for the preventive treatment of episodic migraine in adults. American Headache Society [Internet]. 2021. Available from: https://americanheadachesociety.org/news/atogepant-receives-fda-approval-for-the-preventive-treatment-of-episodic-migraine-in-adults/

3. Ailani J, Lipton RB, Goadsby PJ, Guo H, Miceli R, Severt L, et al. Atogepant for the preventive treatment of migraine. New England Journal of Medicine 2021;385(8):695–706. https://doi.org/10.1056/nejmoa2035908

Share this article
Related Articles
Manfaat Vitamin dan Penyakit Parkinson, Sebuah "Umbrella Review" dari Meta-analisis & Tinjauan Sistematik
dr. Kupiya | 26 Sep 2022
Infeksi Serius pada Paruh Baya Berhubungan dengan Alzheimer dan Penyakit Parkinson Lebih Awal
dr. Kupiya | 23 Sep 2022
Vitamin atau Kakao, Mana yang Mampu Menghambat Penurunan Kognitif?
dr. Kupiya | 19 Sep 2022
Kesehatan Periodontal Berhubungan dengan Risiko Penurunan Kognitif dan Demensia
dr. Kupiya | 16 Sep 2022
Penggunaan Obat Kombinasi Dextromethorphan dan Bupropion Efektif dalam Terapi Gangguan Depresi Mayor
dr. Allen | 07 Sep 2022
Potensi Citicoline sebagai Terapi Neuroprotektif yang Menjanjikan pada Anak Pasca-henti Jantung
dr. Allen | 04 Jul 2022
Statin Berpotensi Menurunkan Risiko Parkinsonisme
dr. Kupiya | 13 Apr 2022
Defisiensi Vitamin B12 Meningkatkan Risiko Insiden Depresi pada Usia Lanjut
dr. Lupita Wijaya | 07 Mar 2022
Erenumab sebagai Terapi Migrain, Apakah Efektif?
dr. Yohanes Jonathan | 25 Jan 2022
Gabapentin versus Pregabalin pada Chronic Inflammatory Demyelinating Polyradiculoneuropathy, Manakah yang Lebih Baik?
Dr. Della Sulamita Mahendro | 26 Jan 2022