Detail Article
Efikasi dan Keamanan Penggunaan Proton Pump Inhibitor (PPI) pada Anak
dr. Josephine Herwita
Jul 28
Share this article
bcd577ac3b0fce54228b229570d227c6.jpg
Updated 28/Jul/2022 .

Obat-obatan golongan proton pump inhibitor (PPI), seperti omeprazole, lansoprazole, pantoprazole, esomeprazole, dan rabeprazole, sangat umum diresepkan di seluruh dunia. Meskipun indikasi dan studi penggunaannya terhadap anak masih terbatas, penggunaannya dilaporkan meningkat. Dipasquale, dkk. (2022) melakukan studi review yang bertujuan mengevaluasi mekanisme kerja, penggunaan, dan profil keamanan PPI pada anak dan bayi. Berdasarkan studi disimpulkan bahwa PPI hanya direkomendasikan penggunaannya pada anak jika terbukti adanya GERD atau perdarahan gastrointestinal, terutama pada anak di bawah 1 tahun. 


Mekanisme Kerja PPI

H+K+ATPase merupakan enzim yang bertanggungjawab terhadap produksi asam lambung pada sel parietal setelah adanya stimulus pada reseptor asetilkolin, histamin, atau gastrin. PPI harus melalui proses aktivasi sebelum dapat berikatan dengan molekul H+K+ATPase. PPI merupakan basa lemah yang sensitif terhadap asam, sehingga membutuhkan lapisan enterik untuk melindungi terhadap kerusakan akibat asam lambung dan memungkinkan penyerapan ke mukosa pencernaan. Oleh karena itu, produk PPI yang beredar di pasaran umumnya memiliki struktur cincin benzimidazole yang melindungi dari kerusakan. Produksi gastrin setelah makan merupakan penginduksi H+K+ATPase yang paling kuat, hal ini menjadi dasar rasional PPI harus dikonsumsi dengan cukup waktu sebelum makan untuk memungkinkan aktivasi PPI. Sekresi asam lambung akan berhenti ketika PPI berhasil menempel pada H+K+ATPase, secara reversibel ataupun permanen. Namun, tidak semua pompa proton terblokir dengan dosis inisial PPI, sehingga terapi PPI membutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk mencapai kondisi stabil.

 

Penggunaan Klinis pada Anak dan Remaja

PPI teregistrasi untuk penggunaan pada anak di atas usia 1 tahun sebagai terapi jangka pendek GERD simtomatik, penyembuhan esofagitis erosif, terapi ulkus peptikum, dan eradikasi Helicobacter pylori. Selain itu, PPI juga umum digunakan sebagai standar terapi esofagitis eosinofilik (EoE) pada anak. Sebuah systematic review yang melibatkan 12 studi penggunaan PPI (esomeprazole, lansoprazole, omeprazole, dan pantoprazole) pada anak dengan PPI menunjukkan bahwa PPI efektif menurunkan asiditas lambung dibanding plasebo ataupun asam alginik dan ranitidin. Studi tersamar ganda juga menujukkan bahwa rabeprazole efektif pada anak usia 1-11 tahun dengan GERD. Pedoman terapi GERD simtomatik pada anak merekomendasikan penggunaan PPI 4-8 minggu. Studi pada anak dengan esofagitis erosif usia 1-11 tahun menunjukkan bahwa penggunaan esomeprazole 0,2-1,0 mg/kg menunjukkan penyembuhan erosi pada 89% kasus setelah 8 minggu terapi.


PPI memiliki dua efek menguntungkan pada EoE anak, yaitu menurunkan paparan asam yang dapat menurunkan kerusakan pada esofagus dan menurunkan kadar eotaxin-3 yang merupakan sel Th-2 yang berperan dalam inflamasi akibat eosinofil. Terapi PPI merupakan terapi lini pertama EoE dengan dosis rekomendasi omeprazole 1-2 mg/kg dua kali sehari pada anak dengan durasi terapi 8 minggu.

 

Penggunaan Klinis pada Bayi

Indikasi penggunaan PPI pada bayi masih belum jelas. Hingga saat ini, pedoman penggunaan PPI untuk GERD pada anak usia di bawah 1 tahun menyebutkan bahwa PPI hanya dipertimbangkan setelah rujuk ke spesialis gastroenterologi anak dan setelah kegagalan terapi. Esomeprazole merupakan satu-satunya PPI yang diakui penggunaannya pada bayi usia 1 hingga 12 bulan. Studi penggunaan lansoprazole dibandingkan dengan plasebo pada bayi selama 4 minggu menunjukkan respons terapi serupa pada kedua kelompok dalam penurunan gejala.

 

Keamanan PPI

Efek samping jangka pendek penggunaan PPI dilaporkan sebanyak 34% anak mengalami nyeri kepala, mual, diare, atau konstipasi. Penggunaan PPI kronis pada anak juga berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi pencernaan dan saluran napas bawah, fraktur tulang, dan alergi. Toksisitas PPI memang belum diketahui, sehingga hal ini diperkirakan terkadi karena adanya supresi asam lambung dalam jangka waktu lama.

 

Berdasarkan studi ini, dapat disimpulkan bahwa PPI hanya direkomendasikan penggunaannya pada anak jika terbukti adanya GERD atau perdarahan gastrointestinal, terutama pada anak dibawah 1 tahun. Penggunaan PPI jangka panjang dikaitkan dengan berbagai efek samping, sehingga pertimbangan pemberian harus dilakukan sebaik-baiknya dengan memikirkan manfaat dan risiko pada anak.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Freepik)

Referensi:

Dipasquale V, Cicala G, Spina E, Romano C. A narrative review on efficacy and safety of proton pump inhibitors in children. Frontiers in Pharmacology. 2022;13. doi: 10.3389/fphar.2022.839972


Share this article
Related Articles
Ketamine Berpotensi Memberikan Manfaat untuk Kondisi Langka Terkait Autisme
dr. Kupiya | 14 Sep 2022
Potensi Citicoline sebagai Terapi Neuroprotektif yang Menjanjikan pada Anak Pasca-henti Jantung
dr. Allen | 04 Jul 2022
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
PEG-3350 vs Magnesium Hidroksida untuk Konstipasi Bayi dan Anak
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 16 Jun 2022
Mengenal Adenovirus, Diduga Kuat Berhubungan dengan "Hepatitis Unknown Etiology"
dr. Kupiya | 12 Mei 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Hubungan Status Vitamin D Maternal pada Kehamilan dengan Neurodevelopment Bayi
dr. Josephine Herwita Atepela | 28 Des 2021
Kurangnya Vitamin D Selama Hamil Meningkatkan Risiko Berat Badan Lahir Rendah
dr. Martinova Sari Panggabean | 01 Nov 2021
Vitamin D dan Autisme, Apa Kaitannya?
dr. Esther Kristiningrum | 12 Jul 2021
Anemia pada Kehamilan Meningkatkan Risiko Terjadinya Spektrum Autisme
dr. Josephine Herwita Atepela | 19 Mei 2021