Detail Article
Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala
Jun 14
Share this article
6f35c6ab0fbc1113579bb9bceb8bd1a5.jpg
Updated 14/Jun/2022 .

Subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 telah terdeteksi di Indonesia. Ada 4 kasus subvarian baru BA.4 dan BA.5 pertama yang dilaporkan di Indonesia pada 6 Juni 2022, di mana terdiri dari 1 orang positif BA.4 seorang WNI dan 3 orang lainnya dengan kasus positif BA.5 yang merupakan pelaku perjalanan luar negeri. 

Kondisi klinis empat orang tersebut antara lain tiga orang tidak bergejala dan satu orang gejala ringan dengan sakit tenggorokan dan badan pegal. Mereka rata-rata sudah vaksin booster bahkan sampai ada yang 4 kali divaksin COVID-19. Hingga 10 Juni 2022, terdapat 4 tambahan kasus subvarian baru BA.4 dan BA.5 yang terdiri dari 3 positif BA.5 dan 1 positif BA.4. Dari keempat kasus tersebut, 1 kasus mengalami gejala sedang dengan batuk, sesak napas, sakit kepala, lemah, mual muntah, dan nyeri abdomen. Diketahui bahwa pasien tersebut sudah mendapatkan vaksinasi 2 kali dan belum vaksin booster.


Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH mengatakan di tingkat global secara epidemiologi subvarian BA.4 sudah dilaporkan sebanyak 6.903 sekuens. Laporan tersebut berasal dari 58 negara dan ada 5 negara dengan laporan BA.4 terbanyak, antara lain Afrika Selatan, Amerika Serikat, Britania Raya, Denmark, dan Israel. Sedangkan BA.5 sudah dilaporkan sebanyak 8.687 sekuens dari 63 negara. Ada 5 negara dengan laporan sekuens terbanyak, yaitu Amerika, Portugal, Jerman, Inggris, dan Afrika Selatan. Saat ini tidak ada indikasi perubahan tingkat keparahan untuk BA.4/BA.5 dibandingkan dengan garis keturunan Omicron sebelumnya.


Omicron BA.4 dan BA.5 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan masing-masing pada Januari dan Februari 2022, dan sejak itu menjadi varian dominan. BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian Omicron asli, tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan varian BA.2. Kedua varian mengandung substitusi asam amino L452R, F486V, dan R493Q dalam spike receptor binding domain dibandingkan dengan BA.2. Mutasi L452R, yang juga terdeteksi pada varian Delta diperkirakan membuat virus lebih menular dan menghindari penghancuran sebagian oleh sel-sel imun. Mutasi F486V juga membantu menghindari pengenalan sistem imun.


Mengingat bahwa subvarian BA.4 dan BA.5 masih diklasifikasikan sebagai Omicron, dan bahwa sebagian besar mutasi (terutama dalam protein lonjakan) adalah sama, kemungkinan gejalanya akan serupa, di antaranya batuk (89%), fatigue (65%), hidung tersumbat atau rinore (59%), demam (38%), mual atau muntah (22%), sesak napas (16%), diare (11%), anosmia atau ageusia (8%). Sedangkan untuk tata laksananya masih mengikuti panduan tata laksana COVID-19 sebelumnya.


Pada konferensi pers secara virtual di gedung Kemenkes, pada 10 Juni 2022, dr Syahril mengatakan dari laporan disampaikan bahwa transmisi BA.4 ataupun BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian omicron BA.1 dan BA.2. Kemudian tingkat keparahan dari BA.4 dan BA.5 disampaikan tidak ada indikasi menyebabkan kesakitan lebih parah dibandingkan varian omicron lainnya. Ada 3 negara, yaitu Afrika Selatan, Portugal, dan Chili, yang kenaikan kasus COVID-19 dikaitkan dengan meningkatnya kasus BA.4 dan BA.5. Sementara di Indonesia kasus adanya BA.4 dan BA.5 dimulai di awal Juni 2022.


Dikatakan dr. Syahril, yang perlu diwaspadai yaitu immune escape, artinya kemampuan menghindar dari imunitas yang dibentuk oleh vaksinasi ataupun infeksi sebelumnya.. Oleh karena itu, penerapan protokol kesehatan masih tetap relevan dalam kondisi saat ini, tetap gunakan masker dengan baik dan benar, terutama di tempat tertutup dan transportasi umum, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya dengan mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun atau dengan hand sanitizer, jaga jarak, kurangi mobilitas, dapatkan vaksinasi hingga vaksin Booster.



Gambar: Ilustrasi (Foto oleh polina tankilevitch-www.pexels.com)

Referensi:

1. Kementerian Kesehatan. Subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 terdeteksi di Indonesia, tingkat kesakitan rendah [Internet]. 2022 Jun 10 [cited 2022 Jun 13]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20220610/2440100/subvarian-baru-omicron-ba-4-dan-ba-5-terdeteksi-di-indonesia-tingkat-kesakitan-rendah/

2. Burhan E. Omicron varian BA.4 dan BA.5 gejala dan tatalaksana. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUP Persahabatan; 2022.

Share this article
Related Articles
Tocilizumab Efektif Menurunkan Mortalitas Pasien COVID-19 Rawat Inap, Ini Studi Meta-Analisis
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 02 Agt 2022
Baricitinib Bermanfaat Menurunkan Mortalitas Pasien COVID-19 Rawat Inap
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 29 Jun 2022
COVID-19 Varian XE, Pertama Ditemukan di Inggris, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 07 Apr 2022
Metabolit Molnupiravir >100x Lebih Aktif daripada Favipiravir atau Ribavirin terhadap SARS-CoV-2
dr. Johan Indra Lukito | 21 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Vaksin COVID-19 Trivalent Inhalasi Memberikan Imunitas yang Superior Dibandingkan dengan Vaksin Intramuskuler
dr. Hasna Mardhiah | 01 Mar 2022
Sediaan Vitamin D3 antara Tablet dan Oil Drops, Apakah Sama Efektifnya?
dr. Esther Kristiningrum | 14 Feb 2022
Vaksin COVID-19 Dosis Keempat, Apakah Diperlukan?
dr. Hasna Mardhiah | 11 Feb 2022
FDA AS Memperluas Penggunaan Remdesivir untuk Pasien Rawat Jalan dengan COVID-19 Derajat Ringan-Sedang
dr. Johan Indra Lukito | 27 Jan 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022