Detail Article
Metformin versus Bedah Gastric Band, Mana Lebih Efektif Mencegah Diabetes?
Pande Dharma Pathni
Apr 03
Share this article
img-Bedah1.jpg
Updated 22/May/2020 .

Dalam studi berjudul Restoring Insulin Secretion (RISE) yang disampaikan saat pertemuan ilmiah tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2018, ditemukan bahwa gastric banding dan obat diabetes lini pertama metformin memiliki efektivitas yang serupa dalam menstabilkan atau memperbaiki kadar glukosa darah sampai dengan 2 tahun pada pasien dewasa yang mengalami obesitas derajat sedang plus prediabetes atau baru saja terdiagnosa DM tipe 2.

Tindakan pembedahan gastric band seperti gambar di bawah, biasanya dilakukan dalam kasus agar jumlah makanan yang dapat ditampung oleh lambung menurun akibat volume lambung yang diperkecil. Dampak yang diharapkan adalah penurunan berat badan.
    
Dalam studi berjudul Restoring Insulin Secretion (RISE) yang disampaikan saat pertemuan ilmiah tahunan European Association for the Study of Diabetes (EASD) 2018, ditemukan bahwa gastric banding dan obat diabetes lini pertama metformin memiliki efektivitas yang serupa dalam menstabilkan atau memperbaiki kadar glukosa darah sampai dengan 2 tahun pada pasien dewasa yang mengalami obesitas derajat sedang plus prediabetes atau baru saja terdiagnosa DM tipe 2.

Studi RISE Adult Surgery (BetaFat) yang melibatkan 88 pasien, secara acak diberikan gastric banding atau metformin selama 2 tahun, di mana berhasil membuktikan bahwa kedua terapi keduanya efektif untuk memperbaiki sensitivitas insulin pada dewasa dengan obesitas ringan sampai sedang dan toleransi glukosa terganggu atau diabetes tipe 2 yang ringan dan awal.

Terjadi juga penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas yang predominan untuk mempertahankan kompensasi relatif konstan untuk resistensi insulin dengan hanya adanya sedikit perbaikan pada glukosa.

Dibutuhkan follow-up jangka panjang untuk menilai dampak klinis dari kedua kelompok yaitu seberapa besar perbedaan yang muncul pada insidens diabetes dan efek pada sekresi insulin. Namun sepanjang terjadi penurunan berat badan pada kelompok gastric band maka kelompok ini akan cenderung lebih kecil mengalami progresifitas menjadi diabetes. Dalam hal penurunan berat badan, setelah 2 tahun ditemukan bahwa kelompok gastric band menurunkan 10,7 kg sedangkan kelompok metformin menurunkan 1,7 kg (p < 0,01). Terjadi peningkatan sensitivitas insulin (M/I) sebesar 55% pada kelompok gastric band (p < 0,0001) dan 45% dengan metformin (p= 0,007).

Terjadi penurunan HbA1c pada bulan 12 dan 24 pada kelompok gastric band (p< 0,004), sedangkan hanya pada bulan 12 pada kelompok metfomin (p < 0,01). Terjadi normoglikemia pada 22% dan 15% partisipan kelompok gastric band dan metformin pada bulan 24 (p= 0,66 antara kedua kelompok).

Namun prediktor yang paling penting progresifitas prediabetes menjadi diabetes adalah kadar glukosa puasa. Karena pada kondisi baseline lebih rendah secara signifikan pada kelompok band dibandingkan metformin, maka jika penurunan berat badan tetap dapat dipertahankan maka kelompok band tidak akan berkembang mengalami DM tipe 2.

Dibutuhkan studi maupun follow-up selanjutnya di masa yang akan datang mengenai intervensi ini, apakah akan dapat memberikan efek yang berbeda pada fungsi sel beta pankreas dalam jangka panjang dan apakah kemudian berarti dapat memberikan proteksi sel beta pankreas dalam jangka panjang dengan terapi-terapi tersebut.

 

Image: Ilustrasi
Tucker ME. Gastric band, metformin equally prevent diabetes in short-term [Internet]. 2018 [cited 2018 Oct 28]. Available from: https://www.medscape.com/viewarticle/903502.

Share this article
Related Articles
Rajin Gosok Gigi, Risiko Diabetes Melitus (Kencing Manis) Berkurang
Admin | 27 Apr 2020
"Benar" Atau "Salah" Terkait Dengan Wuhan Coronavirus, Menurut WHO (2)
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 27 Apr 2020
Apa Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Risiko Diabetes Di Kemudian Hari?
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 12 May 2020
Penyakit Hati Non-Alkohol, "Epidemia Baru Di Abad 21"
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 12 May 2020
Suplementasi Vitamin D Bermanfaat Mengurangi Frekuensi Kejadian Eksaserbasi PPOK
nugroho nitiyoso | 14 Nov 2018
Vitamin C Menurunkan Risiko Fibrilasi Atrium pada Pasien Pasca-bedah Jantung
Admin | 06 May 2018
Metformin dapat Menurunkan Penyakit Kardiovaskuler pada Pasien Prediabetes, Benarkah?
Admin | 14 Nov 2018
Memahami Penyebab Alergi Susu Sapi Pada Balita
Admin | 15 Nov 2018
Efek Perlindungan Statin terhadap Infeksi Tuberkulosis Aktif
Admin | 18 Nov 2018
FOS Fermentasi Soy Milk vs Inulin dalam Asidifikasi dan Pertumbuhan Probiotik, Lebih Baik Mana?
Admin | 21 Nov 2018