Detail Article
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah
Jan 18
Share this article
f33c3fbbd87ba94d5b1bed710bf8953c.jpg
Updated 18/Jan/2022 .

Pada sebuah studi kohort retrospektif, CDC melakukan penghitungan insiden diabetes pada pasien usia <18 tahun yang terdiagnosis COVID-19 dengan menggunakan data klaim kesehatan dari IQVIA dan HealthVerity. Pasien usia <18 tahun yang terinfeksi COVID-19 lebih mungkin terdiagnosis dengan diabetes insiden (baru atau belum pernah terdiagnosis sebelumnya) >30 hari setelah infeksi dibandingkan dengan kelompok tanpa infeksi COVID-19 dan kelompok yang mengalami infeksi pernapasan akut sebelum pandemi COVID-19.

Data dari IQVIA diambil dari tanggal 1 Maret 2020 – 26 Februari 2021 sementara data dari HealthVerity diambil dari tanggal 1 Maret 2020 – 28 Juni 2021. Data tersebut dibandingkan dengan insiden diabetes pada pasien dengan kelompok usia dan jenis kelamin yang sama, pada kelompok yang tidak terdiagnosis COVID- 19 selama era pandemi, dan pada kelompok pasien yang terdiagnosis infeksi pernapasan akut sebelum era pandemi COVID-19 (non-SARS-CoV-2).


Dari keseluruhan data didapatkan bahwa insiden diabetes secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan COVID-19 dibandingkan dengan pasien tanpa COVID-19 dan pasien dengan infeksi pernapasan akut sebelum era pandemi. Peningkatan risiko diabetes yang terjadi pada pasien <18 tahun tersebut menekankan pentingnya strategi pencegahan infeksi COVID-19, termasuk vaksinasi, pada kelompok usia ini. Pada database IQVIA, sebanyak 80.893 pasien berusia <18 tahun terdiagnosis dengan COVID-19 pada periode Maret 2020 hingga Juni 2021. Pada database HealthVerity, jumlah pasien berusia <18 tahun yang didiagnosis dengan COVID-19 adalah sebanyak 439.439. Data dibandingkan dengan kelompok usia dan jenis kelamin yang sama pada kelompok tanpa diagnosis COVID-19 dan kelompok yang terdiagnosis dengan infeksi pernapasan akut sebelum pandemi COVID-19 (non-SARS-CoV-2).


Diagnosis diabetes didapatkan pada 0,08% pada pasien dengan COVID-19 vs 0,03% pada pasien tanpa COVID-19 pada database IQVIA dan 0,25% vs 0,19% pada database HealthVerity. Diagnosis baru diabetes 166% (IQVIA) dan 31% (HealthVerity) lebih mungkin ditemukan pada pasien dengan diagnosis COVID-19 daripada pada kelompok tanpa COVID- 19 di era pandemi dan 116% lebih mungkin terjadi pada kelompok terdiagnosis COVID-19 dibandingkan dengan kelompok yang terdiagnosis infeksi saluran pernapasan akut sebelum pandemi (non-SARS-CoV-2) (IQVIA). Infeksi saluran pernapasan non-COVID-19 tidak berkaitan dengan diabetes.


Beberapa kemungkinan penyebab hubungan antara diabetes dan COVID-19 ini antara lain infeksi langsung pada sel beta pankreas yang mengekspresikan reseptor ACE2, atau melalui stres hiperglikemia akibat badai sitokin dan perubahan pada metabolisme glukosa. Kemungkinan lainnya adalah kondisi pre-diabetes yang mengalami progresi menjadi diabetes, mengingat 1 dari 5 remaja di Amerika Serikat berada dalam kondisi pre-diabetes. Terapi dengan obat golongan steroid saat dirawat inap kemungkinan menyebabkan kondisi hiperglikemia akut, namun hanya 1,5% – 2,2% kejadian diabetes yang dilaporkan merupakan kejadian yang terkait dengan pengobatan. Selebihnya merupakan diabetes tipe 1 atau 2. Kenaikan berat badan akibat pandemi juga diperkirakan berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi COVID-19 berat ataupun diabetes tipe 2.


Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk bisa memahami mekanisme patogenesis diabetes setelah infeksi SARS-CoV-2, baik karena infeksi virus itu sendiri maupun karena pengobatan untuk COVID-19, dan apakah diabetes terkait COVID-19 ini bersifat sementara atau akan berlanjut menjadi penyakit kronis.


Simpulan:

Pasien usia <18 tahun yang terinfeksi COVID-19 lebih mungkin terdiagnosis dengan diabetes insiden (baru atau belum pernah terdiagnosis sebelumnya) >30 hari setelah infeksi dibandingkan dengan kelompok tanpa infeksi COVID-19 dan kelompok yang mengalami infeksi pernapasan akut sebelum pandemi COVID-19. Peningkatan risiko diabetes pada kelompok usia <18 tahun setelah infeksi COVID-19 menekankan pentingnya strategi pencegahan COVID-19 pada kelompok usia tersebut, termasuk vaksinasi untuk semua individu yang memenuhi syarat dan pencegahan dan terapi penyakit kronis.



Gambar: Ilustrasi (Foto oleh Nataliya Vaitkevich dari Pexels)

Referensi:

1.  Barrett C, Koyama A, Alvarez P, Chow W, Lundeen E, Perrine C, et al. Risk for newly diagnosed diabetes >30 days after SARS-CoV-2 infection among persons aged <18 years — United States, March 1, 2020– June 28, 2021. MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report 2022;71(2):59-65.

2. Tucker M. 2022. COVID-19 associated with increased diabetes risk in youth. Univadis [Internet]. 2022 Jan 10. Available from: https://www.univadis.com/viewarticle/covid-19-associated-with-increased-diabetes-risk-in-youth-41059406-c695-4790-8261-3b5eb670012c

Share this article
Related Articles
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022
Manfaat Vitamin D3 pada Pasien DM Tipe 2 Tidak Terkontrol
dr. Esther Kristiningrum | 05 Jan 2022