Detail Article
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito
Jan 11
Share this article
16a290e4cb8d07f8f87a04ccc0732fe2.jpg
Updated 11/Jan/2022 .

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mempersingkat durasi isolasi bagi orang terjangkit COVID-19 menjadi 5 hari dan jika tidak menunjukkan gejala atau gejalanya mereda (tanpa demam selama 24 jam), maka dilanjutkan dengan 5 hari memakai masker saat berada di sekitar orang lain untuk meminimalkan risiko menulari orang lain. 


CDC juga memperbarui durasi karantina untuk orang yang terpapar COVID-19, di antaranya:

  • Bagi yang tidak divaksinasi atau sudah lebih dari enam bulan dari dosis vaksin mRNA kedua (atau lebih dari 2 bulan untuk vaksin Janssen Ad26.CoV2.S) yang diperoleh dan belum mendapat booster, CDC merekomendasikan karantina selama 5 hari diikuti dengan penggunaan masker yang ketat selama 5 hari berikutnya. Sebagai alternatif jika karantina 5 hari tidak memungkinkan, orang yang terpapar wajib memakai masker yang benar setiap saat ketika berada di sekitar orang lain selama 10 hari setelah terpapar.
  • Bagi yang telah mendapat booster tidak perlu dikarantina, namun harus memakai masker selama 10 hari setelah terpapar.

 

Untuk semua orang yang terpapar COVID-19, dianjurkan melakukan tes untuk SARS-CoV-2 pada hari ke-5 setelah terpapar. Jika gejala muncul, orang yang terpapar harus segera dikarantina sampai hasil tes negatif untuk memastikan gejala tidak disebabkan oleh COVID-19.

 

Perubahan ini menurut CDC dilatarbelakangi oleh pengetahuan yang menunjukkan bahwa mayoritas penularan SARS-CoV-2 terjadi pada awal perjalanan penyakit, umumnya dalam 1-2 hari sebelum timbulnya gejala dan 2-3 hari setelahnya. Selain itu, perubahan ini juga didorong oleh pertimbangan agar kehidupan sosial ekonomi masyarakat dapat tetap berjalan.

 

Perubahan ini juga memancing perdebatan di antara ahli kesehatan, ada yang setuju, ada pula yang tidak. Hal yang memicu perdebatan paling banyak, di antaranya terkait orang yang terinfeksi tidak perlu untuk melakukan tes sebelum menyelesaikan isolasi, beberapa saran yang sama untuk orang yang sudah divaksinasi dan tidak divaksinasi, dan anjuran memakai masker tidak cukup spesifik. Penjelasan yang diperoleh terkait hal tersebut, antara lain bahwa tes tidak diperlukan sebelum menyelesaikan isolasi karena hasil tes PCR dapat tetap positif hingga 12 minggu setelah seseorang pertama kali terinfeksi COVID-19. Tes antigen cepat juga tidak dianjurkan karena tidak diizinkan oleh Food and Drug Administration (FDA) AS untuk tujuan tersebut.

 

Hal ini tentu perlu disesuaikan dengan kondisi tiap Negara, oleh karena itu untuk pelaksanaannya di Indonesia tetap mengikuti kebijakan dari Kementerian Kesehatan. Tetap waspada dengan menjalankan protokol kesehatan.

 


Gambar: Ilustrasi (photo by freepik)

Referensi:

1. CDC. Updates and shortens recommended isolation and quarantine period for general population [Internet]. 2021 [cited 2022 January 5]. Available from: https://www.cdc.gov/media/releases/2021/s1227-isolation-quarantine-guidance.html

2. Facing criticism, CDC updates Covid-19 isolation recommendations with guidance on testing [Internet]. 2022 [cited 2022 January 5]. Available from: https://edition.cnn.com/2022/01/04/health/cdc-updated-guidance-covid-isolation/index.html

3. New CDC isolation and quarantine guidelines confuse some and raise questions [Internet]. 2021 [cited 2022 January 5]. Available from: https://www.pbs.org/newshour/health/new-cdc-isolation-quarantine-guidelines-confuses-some-and-raises-questions


Share this article
Related Articles
COVID-19 Varian XE, Pertama Ditemukan di Inggris, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 07 Apr 2022
Metabolit Molnupiravir >100x Lebih Aktif daripada Favipiravir atau Ribavirin terhadap SARS-CoV-2
dr. Johan Indra Lukito | 21 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Vaksin COVID-19 Trivalent Inhalasi Memberikan Imunitas yang Superior Dibandingkan dengan Vaksin Intramuskuler
dr. Hasna Mardhiah | 01 Mar 2022
Sediaan Vitamin D3 antara Tablet dan Oil Drops, Apakah Sama Efektifnya?
dr. Esther Kristiningrum | 14 Feb 2022
Vaksin COVID-19 Dosis Keempat, Apakah Diperlukan?
dr. Hasna Mardhiah | 11 Feb 2022
FDA AS Memperluas Penggunaan Remdesivir untuk Pasien Rawat Jalan dengan COVID-19 Derajat Ringan-Sedang
dr. Johan Indra Lukito | 27 Jan 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022