Detail Article
Konsumsi Makanan Olahan Meningkatkan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2
Dr. Johan Indra Lukito
Nov 05
Share this article
3ea54e2457a0fb7498eb9e71867f9919.jpeg
Updated 06/Nov/2020 .

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi makanan olahan secara berlebihan dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2 (DMT2), terlepas dari faktor risiko lain termasuk berat badan dan kualitas gizi makanan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan target baru yang perlu menjadi perhatian dalam rangka pencegahan DMT2.


Dari pengamatan selama 6 tahun, konsumsi makanan olahan ditemukan terkait dengan peningkatan risiko DMT2 sebesar 1,15 kali lebih tinggi untuk setiap peningkatan 10% porsi makanan olahan dalam diet. Bahkan jika peserta tidak mengalami kenaikan berat badan selama masa pengamatan, mereka tetap berisiko terkena DMT2 jika banyak mengonsumsi makanan olahan. Jumlah makanan olahan yang dikonsumsi juga berkaitan dengan risiko DMT2.


Dalam hal kandungan nutrisi, makanan olahan diketahui memiliki kualitas gizi yang lebih buruk, yakni mengandung kadar natrium, energi, lemak, dan gula yang lebih tinggi, dan lebih rendah serat, sementara juga umumnya memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi. Di sisi lain, makanan olahan dapat menyebabkan perubahan mikrobiota usus dan gangguan endokrin karena proses produksi dan pengemasan makanan.

 

Produk makanan olahan, misalnya, sering memiliki masa simpan yang lebih lama karena penggunaan bahan pengawet dan oleh karenanya terpapar bahan kimia berbahaya seperti phthalate dan bisphenol A yang mengganggu fungsi endokrin yang dikaitkan dengan peningkatan risiko DMT2. Proses fisika dan kimia lainnya, seperti pemanasan pada suhu tinggi, dikaitkan dengan produksi kontaminan yang menimbulkan risiko buruk terhadap kesehatan, seperti acrylamide, terutama ditemukan pada kentang goreng, biskuit, kue, dan kopi, yang telah dikaitkan dengan resistensi insulin.


Makanan olahan juga biasanya mengandung zat makanan yang tidak atau jarang digunakan dalam kuliner (misalnya, beberapa jenis gula rafinasi, minyak terhidrogenasi) dan berbagai jenis zat tambahan kosmetik (misalnya, pengemulsi, pemanis, zat pengental, pewarna) yang memiliki efek kardiometabolik. Makanan olahan terutama berupa soda yang mengandung gula atau pemanis buatan, minuman energi, makanan yang diproduksi pabrik seperti makanan penutup yang mengandung susu dan milkshake, lemak dan saus, produk-produk manis, seperti permen dan cokelat, serta daging olahan.


Bahkan dengan mengesampingkan peran mekanisme makanan olahan dalam timbulnya penyakit, di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan olahan dirancang untuk membuat konsumen mengonsumsi lebih banyak dan sejauh ini produsen berhasil dalam tujuannya untuk meningkatkan konsumsi.



Image: Ilustrasi (sumber: https://www.cnbc.com/)

Referensi: Melville NA. Ultra-Processed Foods Now Linked to Risk of Type 2 Diabetes. Medscape [Internet] 2019 [Cited 2019 December 12]. Available from:https://www.medscape.com/viewarticle/922702?src=android&ref=share


Share this article
Related Articles
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022