Detail Article
Amlodipine Meningkatkan Aliran Darah Ovarium dan Uterus Wanita PCOS.
Dr. Martinova Sari Panggabean.
Okt 28
Share this article
73fe3eb7bc012fcf3ac2dd97e214ac45.jpg
Updated 28/Okt/2020 .

Sindrom ovarium polikistik (polycystic ovarian syndrome/PCOS) adalah gangguan endokrin yang sangat umum terjadi pada wanita dan merupakan salah satu penyebab infertilitas pada wanita. Amlodipine merupakan vasodilator penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker) yang dapat meningkatkan aliran darah di berbagai organ melalui efek vasodilatasi. 

Suatu penelitian RCT dilakukan oleh Torky dkk. terhadap 124 wanita berusia 20-39 tahun yang menderita PCOS untuk mengevaluasi efek amlodipine terhadap aliran darah ovarium dan uterus. Pasien dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan clomiphene citrate 150 mg selama 5 hari sejak hari kedua siklus menstruasi dan amlodipine 5 mg sekali sehari sejak hari ke-6 hingga hari ke-12 siklus menstruasi (n=62). Kelompok kedua mendapatkan clomiphene citrate dan plasebo (n=62).


Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengevaluasi apakah menambahkan penghambat kanal kalsium yang memiliki efek vasodilator, amlodipine, dengan clomiphene citrate dapat meningkatkan aliran darah folikel pra-ovulasi, dengan mengukur indeks pulsatilitas (pulsatility index/PI) dalam arteri ovarium. Tujuan sekunder adalah menilai ketebalan endometrium dan terjadinya kehamilan klinis (terdeteksinya denyut jantung janin dengan USG transvaginal setelah terlambat menstruasi selama 2 minggu).


Dari perlakuan tersebut, peneliti mendapatkan hasil: Indeks pulsatilitas ovarium (pulsatility index/PI) rata-rata pada kelompok yang diberikan amlodipine lebih rendah secara signifikan dibandingkan pada kelompok plasebo (1,36 ± 0,92 vs 1,82 ± 0,97; p=0,002). Hal ini menunjukkan bahwa amlodipine memiliki efek dalam meningkatkan aliran darah uterus dan ovarium. Ketebalan endometrium rata-rata pada saat folikel matang terdeteksi adalah lebih tinggi pada kelompok amlodipine dibandingkan kelompok plasebo (8,99 ± 2,13 mm vs 7,00 ± 1,54 mm; p=0,003). Didapatkan jumlah kehamilan klinis yang lebih banyak secara signifikan pada kelompok amlodipine (37%) dibandingkan kelompok plasebo (11%) (p= 0,007).


Amlodipine dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan aliran darah antara ovarium dan uterus pada pasien PCOS dengan menurunkan resistensi perifer sehingga suplai darah ke uterus meningkat secara signifikan. Hal ini terlihat dari perbaikan indeks arteri uterus dan juga peningkatan ketebalan endometrium. Selain itu, terjadi peningkatan aliran darah ke folikel pra-ovulasi bersama dengan peningkatan ukuran folikel yang signifikan setelah pemberian amlodipine. Hal ini dikaitkan dengan terjadinya penurunan resistensi perifer pada wanita PCOS dan dihambatnya efek vasokonstriksi langsung oleh hormon androgen pada jaringan vaskular.


Penelitian ini menunjukkan bahwa amlodipine dapat meningkatkan aliran darah uterus dan ovarium yang mempengaruhi proses terjadinya ovulasi. Penghambat kanal kalsium "Amlodipine" menunjukkan manfaat potensial dalam meningkatkan aliran darah ovarium pada PCOS dan kemungkinan dapat membantu meningkatkan kesuburan/fertilitas pada wanita. Namun demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi efek amlodipine pada kasus infertilitas. 



Image: Ilustrasi (sumber:https://www.fda.gov/)

Referensi: Torky HA, Shata A, Ahmad AM, et al. Effect of amlodipine on blood flow of preovulatory follicle in women with clomiphene resistant polycystic ovaries: a randomized controlled trial. Arch Gynecol Obstet. 2020;301(3):845-850. doi:10.1007/s00404-020-05471-z


Share this article
Related Articles
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022