Detail Article
Vitamin D3 Memperbaiki Sensitivitas Insulin
Dr. Esther Kristiningrum
Sep 08
Share this article
7b3c7cc44141430ddaffd3f3b758995a.jpg
Updated 08/Sep/2020 .

Suatu studi telah dilakukan untuk menentukan apakah suplementasi vitamin D3 dapat memperbaiki sensitivitas insulin. Studi ini merupakan studi acak, tersamar ganda, dengan kontrol plasebo pada 96 orang dengan risiko tinggi diabetes atau dengan diabetes tipe 2 yang baru didiagnosis yang secara acak mendapat vitamin D3 5000 IU/hari atau plasebo selama 6 bulan.

Parameter primer studi ini adalah sensitivitas insulin (M-value menggunakan klem hiperinsulinemik-euglikemik 2 jam), sedangkan parameter sekunder adalah sensitivitas insulin menggunakan (HOMA 2%S, Matsuda) dan indeks sekresi insulin (indeks insulinogenik, C-peptide area under the curve, HOMA2-B) menggunakan tes toleransi setelah 2 jam glukosa oral 75 gram (OGTT); fungsi sel beta (indeks disposisi: M-value x indeksi insulinogenik); gula darah puasa dan OGTT; HbA1c; antropometri. 

Hasilnya menunjukkan bahwa karakeristik basal sama antara kedua kelompok (wanita: 38,5%, usia rata-rata 58,7 tahun, BMI rata-rata 32,2 kg/m2, prediabetes: 35,8%, diabetes: 20,0%, 25(OH)D rata-rata: 51,1 nmol/L).

Setelah 6 bulan, kadar 25(OH)D rata-rata 127,6 nmol/L pada kelompok vitamin D3 dan 51,8 nmol/L pada kelompok plasebo (p<0,001). Efek bermanfaat dari vitamin D dibanding plasebo terlihat pada M-value (perubahan rata-rata (95% CI) 0,92 (0,24 s/d 1,59) vs -0,03 (-0,73 s/d 0,67); p=0,009) dan indeks disposisi (perubahan rata-rata (95% CI) 267,0 (-343,4 s/d 877,4) vs -55,5 (-696,3 s/d 585,3); p=0,039) setelah 6 bulan. Indeks disposisi merupakan suatu pengukuran kapasitas kompensasi sel beta.

Pada individu dengan prediabetes, konsumsi vitamin D3 menyebabkan perbaikan sensitivitas insulin sebesar 1,25 mg/kg/menit dibanding penurunan sensitivitas insulin sebesar 0,56 mg/kg/menit pada mereka yang mengkonsumsi plasebo (p=0,015). Sedangkan pada pasien diabetes tipe 2, terjadi peningkatan M-value sebesar 1,46 mg/kg/menit setelah 6 bulan konsumsi vitamin D3, yang lebih tinggi dibanding 0,08 mg/kg/menit peningkatan pada pasien diabetes tipe 2 yang mengonsumsi plasebo (p=0,03). Tidak ditemukan efek pada outcome lain.

Dari hasil studi tersebut disimpulkan bahwa pada individu dengan risiko tinggi diabetes atau dengan diabetes tipe 2 yang baru didiagnosis, suplementasi vitamin D3 5000 IU/hari selama 6 bulan secara bermakna meningkatkan sensitivitas insulin perifer dan fungsi sel beta pankreas, hal ini menunjukkan bahwa vitamin D3 dapat memperlambat perburukan metabolik pada populasi tersebut.


Silakan baca juga: Prove D3 1000, untuk meningkatkan kadar 25(OH)D dalam darah pada pasien dengan kekurangan vitamin D

Image: Ilustrasi (sumber: https://www.nutraingredients-asia.com/)

Referensi:

1. Lemieux P, Weisnagel SJ, Caron AZ, Julien A, Morisset A, Carreau A, et al. Effects of 6-month vitamin D supplementation on insulin sensitivity and secretion: a randomised, placebo-controlled trial. Eur J Endocrinol. 2019;181(3):287-99.

2. Vitamin D supplementation increases insulin sensitivity beta-cell function [Internet]. 2019 [cited 2020 August 25]. Available from: https://www.healio.com/news/endocrinology/ 20190725/vitamin-d-supplementation-increases-insulin-sensitivity-betacell-function


Share this article
Related Articles
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022