Detail Article
Suplementasi Vitamin D Bermanfaat Mengurangi Frekuensi Kejadian Eksaserbasi PPOK
nugroho nitiyoso
Nov 14
Share this article
img-Vitamin-D.jpg
Updated 22/Mei/2020 .

PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) adalah penyakit peradangan kronik pada saluran napas bawah yang ditandai oleh sesak napas dan batuk dengan produksi dahak yang banyak. Menurut WHO, PPOK adalah penyebab kematian nomor 3 di dunia setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Salah satu penyebab kematian pada PPOK adalah adanya eksaserbasi (serangan) PPOK yang ditandai dengan perburukan gejala sesak napas dan batuk berdahak. Menurut badan dunia GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease), ada beberapa pengobatan yang direkomendasikan, antara lain inhalasi kortikosteroid, inhalasi bronkodilator, dan mukolitik. 

PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) adalah penyakit peradangan kronik pada saluran napas bawah yang ditandai oleh sesak napas dan batuk dengan produksi dahak yang banyak. Menurut WHO, PPOK adalah penyebab kematian nomor 3 di dunia setelah penyakit jantung koroner dan stroke. Salah satu penyebab kematian pada PPOK adalah adanya eksaserbasi (serangan) PPOK yang ditandai dengan perburukan gejala sesak napas dan batuk berdahak. Menurut badan dunia GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease), ada beberapa pengobatan yang direkomendasikan, antara lain inhalasi kortikosteroid, inhalasi bronkodilator, dan mukolitik. 

Eksaserbasi PPOK dapat disebabkan oleh terjadinya infeksi saluran napas oleh bakteri atau virus. Daya tahan tubuh menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah seorang pasien PPOK akan mengalami eksaserbasi atau tidak. Beberapa nutrisi telah diketahui bermanfaat untuk memelihara daya tahan tubuh yang baik, misalnya vitamin D. Pasien PPOK yang mengalami defisiensi hipovitaminosis vitamin D telah diketahui lebih sering mengalami eksaserbasi vitamin D. 

Vitamin D berperan pada sistem imun tubuh dan salah satunya untuk produksi human antimicrobial peptide, yang penting untuk sistem pertahanan saluran napas terhadap bakteri. Mengingat pentingnya vitamin D untuk daya tahan tubuh terhadap infeksi, maka dr. Khan dan tim dari Pakistan menduga bahwa suplementasi vitamin D akan dapat bermanfaat untuk mengurangi frekuensi eksaserbasi PPOK. Oleh karena itu, mereka melakukan sebuah uji klinik yang diterbitkan di Pakistan Journal of Medical Science bulan Juni tahun 2017. 

Pada uji klinik ini, sebanyak 120 pasien PPOK diacak untuk mendapatkan pengobatan standar PPOK, kemudian sebagai tambahan, dibagi menjadi 2 kelompok di mana kelompok A mendapatkan suplemen vitamin D 2000 IU per hari dan kelompok B mendapatkan plasebo. Kedua kelompok ini kemudian di follow-up selama 6 bulan untuk membandingkan frekuensi eksaserbasi antara kedua kelompok. Hasilnya didapatkan bahwa pada bulan ke-1 sampai bulan ke-5 tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok, akan tetapi pada bulan ke-6 didapatkan bahwa kejadian eksaserbasi pada kelompok A (0 / bulan) lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kejadian eksaserbasi pada kelompok B (4 / bulan), p=0,042. 

Pada pasien PPOK, suplementasi vitamin D 2000 IU jangka panjang (6 bulan), dapat bermanfaat untuk mengurangi frekuensi kejadian eksaserbasi PPOK secara bermakna.

 

Image : Ilustrasi
Referensi:
1.Chronic obstructive pulmonary disease (COPD): Practice essentials, background, pathophysiology [Internet]. 2017 Aug 17 [cited 2017 Aug 31]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/297664-overview
2.Khan DM, Ullah A, Randhawa FA, Iqtadar S, Butt NF, Waheed K. Role of vitamin D in reducing number of acute exacerbations in chronic obstructive pulmonary disease (COPD) patients. Pak J Med Sci. 2017;33(3):610–4.
 

Share this article
Related Articles
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito | 11 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Penambahan Terapi Tislelizumab pada Kemoterapi Bermanfaat untuk Pasien Kanker Nasofaring Rekuren atau Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 19 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Dexmedetomidine Intraoperatif Mempercepat Pemulihan Fungsi Saluran Cerna
dr. Laurencia Ardi | 14 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022