Detail Article
Penyakit Hati Non-Alkohol, "Epidemia Baru Di Abad 21"
dr. Kupiya Timbul Wahyudi
May 12
Share this article
img-obesity1.jpg
Updated 12/May/2020 .

Penyakit hati non-akohol terutama perlemakan hati berkembang dikarenakan adanya peningkatan kejadian kegemukan. Jika lebih dari 5.8% lemak tertumpuk dalam jaringan hati makan akan terjadi perlemakan hati non-alkoholik.

Penyakit hati non-akohol terutama perlemakan hati berkembang dikarenakan adanya peningkatan kejadian kegemukan. Jika lebih dari 5.8% lemak tertumpuk dalam jaringan hati makan akan terjadi perlemakan hati non-alkoholik. Kondisi tersebut jika terjadi peradangan untuk menghilangkan lemak makan disebut dengan steatohepatitis atau sering disebut NASH (non-alkoholik steatohepatitis). NASH inilah yang akan berlanjut menjadi fibrosis dan sirosis hati ataupun karsinoma hepatoseluler yan gberujung terjadinya gagal hati. 

Obesitas juga memicu terjadinya endapan lemak di otot yang akan meningkatkan resistensi insulin. Oleh karena hal itulah pengobatan lini pertama pada perlemakan hati tentunya adalah penurunan berat badan melalui diet dan olahraga dan kontrol diabetes, jika ada. Obesitas, NAFLD, dan resistensi insulin masing-masing secara independen terkait dengan risiko dua kali lipat untuk diabetes. Jika ketiganya hadir, ada risiko 14 kali lipat untuk diabetes. Resistensi insulin mendorong peningkatan lalu lintas asam lemak bebas ke hati, yang dapat memicu lipotoksisitas hati. Hiperinsulinemia meningkatkan penyerapan asam lemak bebas dan mengaktifkan lipogenesis de novo. Hiperglikemia juga dapat mengaktifkan lipogenesis de novo. 

DI Amerika sekitar 85 juta orang memiliki NAFLD. Sebagian besar (80%) adalah kasus steatosis, tetapi 20% memiliki NASH. Dari mereka, 20% berkembang menjadi fibrosis lanjut, yang mengarah pada gagal hati yang perlu transplantasi atau terjadi kematian. Sebuah studi data dari National Health and Nutrition Examination Survey menemukan bahwa diabetes adalah prediktor terkuat dari fibrosis lanjut pada pasien dengan NAFLD (rasio odds, 18,20), diikuti oleh indeks massa tubuh 30 kg/m2 atau lebih (OR, 9,10 ), hipertensi (OR, 1,20), dan usia (OR, 1,08). 

Pasien dengan diabetes tipe 2 dan NAFLD berkembang lebih cepat menjadi fibrosis dan penyakit hati stadium akhir, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki diabetes. Satu studi dari 108 pasien dengan NALFD terbukti biopsi menunjukkan bahwa 84% dari mereka dengan perkembangan fibrosis memiliki diabetes tipe 2. 

Temuan lain menunjukkan bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 berada pada peningkatan risiko NAFLD kronis dan karsinoma hepatoseluler, dan orang dengan NAFLD berisiko menderita dan mati akibat CVD. Semakin lanjut NAFLD, semakin tinggi risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

 


Image: Ilustrasi (sumber: https://www.niehs.nih.gov/health/topics/conditions/obesity/index.cfm)

Referensi: Doug Brunk. Nonalcoholic Liver Disease 'an Epidemic of the 21st Century'. (Internet; Cited: 24/2/2020). Available: https://www.medscape.com/viewarticle/924818

Share this article
Related Articles
Penyakit Hati Non-Alkohol, "Epidemia Baru Di Abad 21"
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 12 May 2020
Suplementasi Vitamin D Pada Anak Obese Defisiensi Diperlukan, Mengapa?
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 06 Apr 2020
Vitamin D Membantu Menurunkan Berat Badan pada Pasien Obesitas
dr. Martinova Sari Panggabean | 26 Aug 2020