Detail Article
Vitamin D, Ini Manfaatnya Pada Jerawat
Esther Kristiningrum
Agt 01
Share this article
img-Women1.jpeg
Updated 22/Mei/2020 .

Akne vulgaris (jerawat) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik pada kulit yang kompleks dan sering dijumpai. Pengaruh hormonal, sumbatan dan hiperkeratinisasi folikuler, peningkatan sekresi sebum, kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes, serta inflamasi terlibat dalam patogenesis akne. P. acnes memicu aktivasi sitokin oleh Toll-like receptor, yang berarti bahwa sistem imun bawaan juga penting untuk terjadinya akne. 
 

Akne vulgaris (jerawat) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik pada kulit yang kompleks dan sering dijumpai. Pengaruh hormonal, sumbatan dan hiperkeratinisasi folikuler, peningkatan sekresi sebum, kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes, serta inflamasi terlibat dalam patogenesis akne. P. acnes memicu aktivasi sitokin oleh Toll-like receptor, yang berarti bahwa sistem imun bawaan juga penting untuk terjadinya akne. 

Vitamin D telah diketahui berperan sebagai modulator metabolisme kalsium dan homeostasis. Vitamin D dapat mempengaruhi sistem imun bawaan dan adaptif melalui efeknya pada limfosit T dan B, sel dendritik, dan makrofag, serta dikaitkan dengan penyakit inflamasi sistemik. Telah diketahui pula sebelumnya bahwa defisiensi vitamin D dapat berdampak pada berbagai penyakit kulit. Identifikasi reseptor vitamin D pada sebosit manusia dan modulasi lemak serta produksi sitokin oleh vitamin D menunjukkan kaitan yang mungkin antara vitamin D dan akne.

 

Silahkan baca juga:Vitamin D Membantu Memperbaiki Petanda Diabetes Tipe 2

 

Suatu studi telah dilakukan untuk membandingkan kadar vitamin D serum pada pasien dengan akne nodulokistik dibanding kontrol sehat untuk menentukan adakah kaitan antara vitamin D dan akne. Dalam studi ini, kadar 25(OH)D diukur pada 43 pasien akne nodulokistik dan 46 subjek kontrol sehat. Hasilnya menunjukkan pada pasien dengan akne nodulokistik, kadar 25(OH)D secara bermakna lebih rendah dibanding subjek kontrol sehat (p<0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar vitamin D yang rendah dan akne

Studi selanjutnya dilakukan untuk menilai efek suplementasi vitamin D pada pasien akne. Studi ini dilakukan pada 80 pasien dengan akne dan 80 kontrol sehat. Kadar 25 hydroxyvitamin D atau (25(OH)D diukur, dan data demografik dikumpulkan. Pasien dengan defisiensi vitamin D diterapi dengan cholecalciferol 1000 IU/hari selama 2 bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa defisiensi 25 (OH)D dideteksi pada 48% pasien dengan akne, tetapi hanya 22,5% dari kontrol sehat. Kadar 25(OH)D berbanding terbalik dengan tingkat keparahan akne, dan terdapat korelasi negatif yang bermakna dengan lesi inflamasi. Dalam uji selanjutnya, perbaikan lesi inflamasi ditemukan setelah suplementasi vitamin D pada 39 pasien akne dengan defisiensi 25 (OH)D.

 

Silahkan baca juga:Dapatkah Vitamin B12 Mencegah Penurunan Fungsi Kognitif Pasien Lansia Diabetik?

 

Dari studi-studi tersebut disimpulkan bahwa defisiensi vitamin D lebih sering dialami pasien dengan akne, dan kadar 25 (OH)D berbanding terbalik dengan tingkat keparahan akne, khususnya pada pasien dengan lesi inflamasi. Hal ini menunjukkan peranan defisiensi vitamin D pada patogenesis akne. Studi lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil studi ini. Evaluasi kadar vitamin D dalam jaringan pada pasien akne juga memerlukan studi lebih lanjut untuk menunjukkan bukti langsung efek vitamin D pada akne. 

 

 

Image : Ilustrasi
Referensi:
1.Lim SK, Ha JM, Lee YH, Lee Y, Seo YJ, Kim CD, et al. Comparison of vitamin D levels in patients with and without acne: A case-control study combined with a randomized controlled trial. PLoS One. 2016 ;11(8):e0161162. doi: 10. 1371/journal.pone. 0161162. 
2.Yildizgören MT, Togral AK. Preliminary evidence for vitamin D deficiency in nodulocystic acne. Dermato Endocrinology 2014;6(1).

Share this article
Related Articles
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito | 11 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Penambahan Terapi Tislelizumab pada Kemoterapi Bermanfaat untuk Pasien Kanker Nasofaring Rekuren atau Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 19 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Dexmedetomidine Intraoperatif Mempercepat Pemulihan Fungsi Saluran Cerna
dr. Laurencia Ardi | 14 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022