Detail Article
Dapatkah Vitamin B12 Mencegah Penurunan Fungsi Kognitif Pasien Lansia Diabetik?
Laurencia Ardi
Jul 23
Share this article
img-Working_lady1.jpg
Updated 22/Mei/2020 .

Diabetes melitus dikaitkan dengan infark lakunar, stroke dan demensia vaskular serta penyakit Alzheimer. Mekanismenya tidak diketahui dengan pasti tetapi diduga berhubungan dengan amiloid dan metabolisme protein. Selain itu, penyakit serebrovaskuler mempuyai efek tambahan yang kuat pada fungsi kognitif penyakit Alzheimer.

Diabetes melitus dikaitkan dengan infark lakunar, stroke dan demensia vaskular serta penyakit Alzheimer. Mekanismenya tidak diketahui dengan pasti tetapi diduga berhubungan dengan amiloid dan metabolisme protein. Selain itu, penyakit serebrovaskuler mempuyai efek tambahan yang kuat pada fungsi kognitif penyakit Alzheimer. 

Pasien lansia dengan diabetes mempunyai risiko tinggi terjadi penurunan fungsi kognitif. Dari suatu penelitian selama 18 bulan, 16% subyek diabetes yang berusia lebih dari 75 tahun menunjukkan penurunan fungsi kognitif yang bermakna. Pada saat yang bersamaan, penderita diabetes juga mempunyai risiko defisiensi vitamin B12 yang lebih tinggi karena penggunaan metformin. Risiko defisiensi vitamin B12 semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia, yang disebabkan karena gastritis atrofi dan malabsorpsi intestinal. 

Vitamin B12 adalah koenzim untuk sintesis S-adenosylmethionine yang merupakan donor methyl universal, terlibat dalam sintesis neurotransmiter, fosfolipid dan mielin di otak, serta defisiensi vitamin B12 memicu produksi amiloid. Terdapat bukti epidemiologi yang menyebutkan bahwa defisiensi vitamin B12 berkaitan dengan gangguan kognitif dan penyakit Alzheimer. Menariknya, satu penelitian Cohort pada lansia non-demented ditemukan peningkatan relative risk dari penyakit Alzheimer akibat defisiensi vitamin B12 yang lebih besar dibandingkan dengan fungsi kognitif sebelumnya. 

Ada beberapa penelitian sebelumnya yang telah meneliti efek suplementasi vitamin B12 pada fungsi kognitif lansia. Dari penelitian acak, tersamar ganda pada pasien lansia dengan defisiensi vitamin B12 ringan yang diberikan suplementasi vitamin B12 dengan atau tanpa folat tidak menunjukkan hasil perbaikan yang bermakna pada tes neuropsikologikal setelah 6 bulan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menilai efek suplementasi vitamin B12 terhadap risiko penurunan kognitif pada lansia dengan diabetes yang disertai dengan defisiensi vitamin B12. 

Desain dan metodenya adalah dengan mengumpulkan pasien diabetik non-demented yang berusia di atas 70 tahun dan mempunyai kadar vitamin B12 plasma anatar 150-300 μmol/L sebanyak 271 kemudian subyek diacak menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan mendapatkan methylcobalamin 1000 mcg dalam sehari selama 27 bulan dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo. Semua subyek diikuti sampai bulan ke-9 dan ke-27.  Parameter primer yang dinilai adalah penurunan kognitif. Yang dimaksud dengan penurunan kognitif adalah peningkatan clinical dementia rating scale (CDR). Sedangkan parameter sekunder yang dinilai adalah neuropsychological test battery (NTB) z-scores, serum methymalonic acid (MMA) dan homosistein. Hasilnya menunjukkan pada bulan ke-9 dan 27 terjadi penurunan serum MMA dan homosistein secara bermakna pada kelompok perlakuan dibandingkan plasebo (p<0,0001). Sedangkan pada bulan ke-27, tidak ada perubahan pada CDR dan NTB z-scores pada kedua kelompok. 

 

 

Image: Ilustrasi (http://www.emeraldgrouppublishing.com)
Referensi:
1. Timothy K, Jenny L, Ronald CM, Samuel YW, Kenny K, Augustine LH, et al. A     randomized placebo controlled trial of vitamin B12 supplementation to prevent     cognitive decline in cognitively normal older diabetic people with borderline low     serum vitamin B12. Clinical Nutrition. 2016. doi: 10.1016/j.clnu.2016.10.018.
2. Malouf R, Areosa SA. Vitamin B12 for cognition. Cochrane Database Syst Rev     2003:3.CD004326. 

Share this article
Related Articles
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito | 11 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Penambahan Terapi Tislelizumab pada Kemoterapi Bermanfaat untuk Pasien Kanker Nasofaring Rekuren atau Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 19 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Dexmedetomidine Intraoperatif Mempercepat Pemulihan Fungsi Saluran Cerna
dr. Laurencia Ardi | 14 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022