Detail Article
Vitamin D Membantu Memperbaiki Petanda Diabetes Tipe 2
Esther Kristiningrum
Jun 30
Share this article
img-Lab21.jpg
Updated 22/Mei/2020 .

Diabetes tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan terapi berbiaya tinggi. Menurut penelitian yang ada, diabetes tipe 2 berkontribusi terhadap 0% stroke, 40% serangan jantung, 50% gagal ginjal yang memerlukan dialisis, dan 70% amputasi anggota gerak bawah non-traumatik. 

Diabetes tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan terapi berbiaya tinggi. Menurut penelitian yang ada, diabetes tipe 2 berkontribusi terhadap 0% stroke, 40% serangan jantung, 50% gagal ginjal yang memerlukan dialisis, dan 70% amputasi anggota gerak bawah non-traumatik. 

Bukti telah menunjukkan bahwa kadar vitamin D berperan dalam status metabolik dari pasien diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D dikaitkan dengan kelainan metabolisme glukosa yang, penurunan sensitivitas insulin dan risiko terjadinya diabetes tipe 2. Namun, bukti yang ada mengenai efek suplementasi vitamin D terhadap kontrol glikemik pada diabestes tipe 2 masih bertentangan. Oleh karena itu, para peneliti melakukan meta-analisis untuk menilai apakah suplementasi vitamin D membantu mengontrol respons glikemik dan memperbaiki sensitivitas insulin pada individu dengan diabetes tipe 2. 

Data uji klinik diambil dari PUBMED/Medline, Cumulative Index to Nursing and Allied Health, dan Cochrane Library (hingga Januari 2017). Uji klinik yang dipilih adalah yang menilai dampak suplementasi vitamin D setiap hari atau setiap minggu minimal 2 bulan terhadap glycosylated hemoglobin (HbA1c), glukosa plasma puasa (FPG), dan homeostatic model assessment of insulin resistance (HOMA-IR) pada pasien diabetes, serta mengukur kadar 25(OH)D serum.

Sebanyak 24 uji klinik (1528 individu yang didiagnosis diabetes tipe 2) dianalisis. Hanya 11 studi yang meliputi subjek dengan defisiensi vitamin D saat basal, 6 studi diberikan suplementasi mingguan dan 5 studi mencakup suplementasi kalsium bersama vitamin D. 

Hasil meta-analisis menunjukkan penurunan HbA1c secara bermakna (perbedaan rata-rata: -0,3%; 95%CI -0,45 s/d -0,15. P<0,001), FPG (perbedaan rata-rata: -4,9 mg/dL (-0,27 mmol/L); 95%CI: -8,1 s/d -1,6, p=0,003), dan HOMA-IR (perbedaan rata-rata: -0,66; 95% CI: -1,06 s/d -0,26, p=0,001) setelah suplementasi vitamin D dan peningkatan bermakna kadar 25(OH)D serum [peningkatan secara keseluruhan 17 ± 2,4 ng/mL (42 ± 6 nmol/L)]. Penurunan HbA1c (p=0,01) dan FPG (p=0,04) lebih bermakna pada subjek dengan suplementasi kalsium juga. Tidak ada kaitan antara HOMA-IR dengan supementasi vitamin D dan kalsium. Dosis rata-rata yang digunakan adalah 4.074 ± 2.450 IU/hari.

Dari hasil studi disimpulkan bahwa suplementasi vitamin D, minimal dengan dosis 100 mcg/hari (4000 IU/hari) dapat secara bermakna menurunkan FPG dan HbA1c serum, indeks HOMA-IR, serta membantu mengontrol respons glikemik dan memperbaiki sensitivitas insulin pada pasien diabetes tipe 2, sehingga dosis minimal vitamin D 4000 IU/hari yang meningkatkan kadar 25(OH)D serum hingga lebih dari 40 ng/mL direkomendasikan untuk memperbaiki kadar glikemik pada pasien diabetes tipe 2.

 

Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Peterson R. Meta-analysis of RCTs suggests vitamin D supplementation improves markers of type II diabetes [Internet]. 2017 [cited 2017 Oct 24]. Available from: https://www.vitamindcouncil.org/meta-analysis-of-rcts-suggests-vitamin-d-supplementation-improves-markers-of-type-ii-diabetes/
2. Mirhosseini N, Vatanparast H, Mazidi M, Kimball SM. The effect of improved serum 25-hydroxyvitamin D status on glycemic control in diabetic patients: a meta-analysis. J Clin Endocrinol Metab. 2017;102(9):3097-3110. doi: 10.1210/jc.2017-01024.
 

Share this article
Related Articles
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito | 11 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Penambahan Terapi Tislelizumab pada Kemoterapi Bermanfaat untuk Pasien Kanker Nasofaring Rekuren atau Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 19 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Dexmedetomidine Intraoperatif Mempercepat Pemulihan Fungsi Saluran Cerna
dr. Laurencia Ardi | 14 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022