Detail Article
Vitamin C, Dapatkah Menurunkan Petanda Inflamasi (CRP) Darah?
Dokter Kalbemed
Jun 27
Share this article
img-Jus-Jeruk1.jpg
Updated 22/Mei/2020 .

Studi telah menunjukkan bahwa high-sensitivity C-reactive protein (CRP), suatu protein fase akut dan petanda inflamasi, dapat memprediksi risiko penyakit kardiovaskuler secara keseluruhan pada individu tanpa penyakit sebelumnya, serta memprediksi jenis penyakit kardiovaskuler meliputi infark miokardium, stroke, dan penyakit arteri perifer. 

Studi telah menunjukkan bahwa high-sensitivity C-reactive protein (CRP), suatu protein fase akut dan petanda inflamasi, dapat memprediksi risiko penyakit kardiovaskuler secara keseluruhan pada individu tanpa penyakit sebelumnya, serta memprediksi jenis penyakit kardiovaskuler meliputi infark miokardium, stroke, dan penyakit arteri perifer. 

CRP dapat secara langsung berkontribusi terhadap proses aterosklerosis, di mana CRP antara lain berperan dalam perekrutan monosit, ekspansi molekul adesi, dan penurunan produksi dilator endotel, nitric oxide.

Studi sebelumnya pada 396 subjek telah menunjukkan bahwa suplementsi vitamin C tablet 1000 mg/hari selama 2 bulan secara bermakna menurunkan CRP pada subjek sehat non-perokok, dibanding vitamin D 800 IU/hari atau plasebo.

Studi selanjutnya yang dilakukan secara acak, label terbuka dengan kontrol pada 64 pasien obesitas dewasa dengan hipertensi dan/atau diabetik juga telah dilakukan untuk menilai efek vitamin C dalam menurunkan CRP. Pasien kelompok eksperimental diberi vitamin C tablet 500 mg, 2 kali sehari selama 8 minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa vitamin C secara bermakna menurunkan kadar hs-CRP, interleukin 6 (IL-6), gula darah puasa, dan trigliserida setelah terapi 8 minggu (p keseluruhan <0,001); tidak ada perubahan pada kolesterol total. Sedangkan pada kelompok kontrol terdapat penurunan bermakna kadar gula darah puasa dan trigliserida (masing-masing p= 0,001 dan p=0,026), tanpa perubahan pada hs-CRP, IL-6, atau kolesterol total. 

Penurunan hs-CRP, IL-6, dan gula darah puasa pada kelompok vitamin C berbeda bermakna dibanding kelompok kontrol (masing-masing p=0,01, p=0,001, dan p<0,001). Disimpulkan bahwa vitamin C 500 mg, 2 kali sehari, berpotensi dalam memperbaiki status inflamasi dengan menurunkan hs-CRP, IL-6, dan gula darah puasa pada pasien obesitas dengan hipertensi dan/atau diabetes.

Suatu studi meta-analisis juga telah dilakukan untuk menilai efek suplementasi vitamin C pada kadar CRP serum, dengan melakukan pencarian literatur sistematik dari Scopus, Pubmed, dan Google Scholar hingga Mei 2018.

Analisis dilakukan terhadap 12 studi dengan 446 subjek kelompok suplementasi dan 447 subjek kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan efek suplementasi vitamin C pada kadar CRP (-0,23 mg/L, 95%CI -0,44 s/d -0,33, p=0,02) dengan efek heterogenitas bermakna pada seluruh studi yang terlibat. 

Analisis subkelompok menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C secara bermakna menurunkan kadar CRP. Efek yang paling bermakna adalah pada hs-CRP sebagai petanda inflamasi representatif (-0,43 mg/L, 95% CI -0,76 s/d -0,1), pada subjek dengan CRP basal ≥3 mg/L (-1,48 mg/L, 95% CI -2,84 s/d 0,11), dan pada subjek berusia <60 tahun (-0,23 mg/L, 95% CI -0,44 s/d -0,01), serta yang menggunakan vitamin C intravena (-0,89 mg/L, 95% CI -1,49 s/d -0,3).

Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C menurunkan kadar CRP serum.

 


Image: Ilustrasi
Referensi: 
1. Block G, Jensen CD, Dalvi TB, Norkus EP, Hudes M, Crawford PB et al. Vitamin C treatment reduces elevated C-reactive protein. Free Radic Biol Med. 2009;46(1):70-7. 
2. Ellulu MS, Rahmat A, Patimah I, Khaza’ai H, Abed Y. Effect of vitamin C on inflammation and metabolic markers in hypertensive and/or diabetic obese adults: a randomized controlled trial. Drug Des Devel Ther. 2015; 9: 3405–12.
3. Jafarnejad S, Boccardi V, Hosseni B, Taghizadeh M, Hamedifard Z. A meta-analysis of randomized control trials: the impact of vitamin C supplementation on serum crp and serum hs-crp concentrations. Curr Pharm Des. 2018. doi: 10.2174/138161282 4666181017101810
 

Share this article
Related Articles
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
CDC Mempersingkat Masa Isolasi dan Karantina COVID-19, Ini Pertimbangannya
dr. Johan Indra Lukito | 11 Jan 2022
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah | 04 Jan 2022
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Penambahan Terapi Tislelizumab pada Kemoterapi Bermanfaat untuk Pasien Kanker Nasofaring Rekuren atau Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 19 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Dexmedetomidine Intraoperatif Mempercepat Pemulihan Fungsi Saluran Cerna
dr. Laurencia Ardi | 14 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022