Detail Article
Penggunaan Probiotik pada Penyembuhan Luka Diabetik, Ini Perannya
dr. Josephine Herwita
Jan 16
Share this article
31511eb54bc0222d35bcdde0f2b9b777.jpg
Updated 17/Jan/2023 .

Komplikasi yang berat dan cukup banyak ditemukan pada penderita diabetes adalah diabetic foot ulcer (DFU). Pasien diabetes umumnya memiliki gangguan pada proses penyembuhan luka, sehingga berisiko mengalami ulkus kaki dan diperkirakan angka kejadiannya adalah 25%. Berdasarkan studi ini, kulit dan usus memiliki morfologi yang berbeda, namun berbagi karakteristik fisiologis yang serupa.

Selain adanya gangguan pada proses penyembuhan, risiko diabetic foot ulcer (DFU) dapat diperparah dengan adanya hiperglikemia, kompleks mikrobiota, neuropati perifer, peripheral arterial disease (PAD), dan adanya trauma sebagai faktor risiko tersering pembentukan ulkus. Pasien diabetes juga umumnya mengalami gangguan respons imun dan resistensi rendah terhadap infeksi. Seluruh hal ini memperparah kesulitan penyembuhan luka dengan tingginya risiko mengalami infeksi sekunder.


Teori gut-skin axis menunjukkan bahwa mikrobiota dapat mengakibatkan beberapa penyakit kulit dan beberapa penyakit kulit umumnya disertai dengan gangguan mikrobiota. Ketidakseimbangan mikrobiota usus memprovokasi stimulasi sel T dan mengganggu regulasi sitokin immunosuppressive bersama sel T. Hal ini berperan dalam toleransi mikrobiota dan mengakibatkan pola inflamasi kronik, baik pada usus maupun kulit. Kolonisasi mikroba umumnya terjadi pada berbagai tipe luka yang dipicu oleh kerusakan sawar epitel. Mikroba dapat bermanfaat sekaligus memperparah luka. Mikroba memicu penyembuhan secara langsung ataupun tidak langsung melalui kadar oksigenasi jaringan, tekanan darah, inflamasi, dan sistem imun, namun mikroba seperti Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan infeksi dan komplikasi pada luka.


Pemberian probiotik pada luka diabetes sudah diteliti oleh beberapa studi, baik pemberian oral maupun topikal, dan pada manusia ataupun hewan. Sebuah studi oleh Choundappan, et al, menilai pemberian Lactobacillus plantarum 5x109 CFU secara topikal pada pasien DFU. Larutan probiotik diberikan bersamaan dengan dressing pada hari ke-0, -5, dan -10. Pada studi ini ditemukan bahwa lebih banyak partisipan kelompok probiotik topikal yang negatif pada pemeriksaan kultur swab luka dibanding kelompok kontrol. Oleh karena itu, studi ini menyimpulkan bahwa pemberian probiotik topikal memperbaiki penyembuhan luka diabetik.


Studi lain oleh Mohseni, et al, menilai suplementasi probiotik multistrain oral pada 60 pasien DFU. Probiotik yang digunakan berupa kapsul dengan kandungan Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus Fermentum, dan Bifidobacterium bifidum (2x109 CFU/g) dibanding plasebo selama 12 minggu. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberian probiotik tersebut bermanfaat signifikan dalam mengurangi ukuran luka, memperbaiki kontrol glikemik, kadar kolesterol, plasma nitric oxide, dan total antioxidant capacity yang mendukung mekanisme penyembuhan luka diabetes.


Mohtashami, et al, melakukan studi pada tikus Wistar dengan probiotik Lactobacillus bulgaricus dan Lactobacillus plantarum dan dilaporkan hasil penyembuhan lebih baik dibanding kontrol. Studi pada hewan lain dilakukan oleh Campos, et al, dengan memberikan probiotik perkutan perioperatif dengan kombinasi Lactobacillus paracasei LPC-37, Bifidobacterium lactis HN0019, Lactobacillus rhamnosus HN001, dan Lactobacillus acidophilus NCFM dengan dosis 1x109 CFU/g. Studi menyebutkan adanya perbaikan penyembuhan kulit, respons inflamasi, percepatan neovaskularisasi, pencegahan turun berat badan, dan kontrol glikemik yang lebih baik.


Kesimpulan:

Kulit dan usus memiliki morfologi yang berbeda, namun berbagi karakteristik fisiologis yang serupa. Pemberian probiotik pada kondisi stres, seperti pada kasus DFU, dapat mempromosikan penyembuhan luka yang lebih baik.



Gambar: Ilustrasi (Sumber: rawpixel - www.freepik.com)

Referensi:

Patel BK, Patel KH, Huang RY, Lee CN, Moochhala SM. The gut- skin microbiota axis and its role in diabetic wound healing—a review based on current literature. International Journal of Molecular Sciences. 2022;23(4):2375. https://doi.org/10.3390/ijms23042375


Share this article
Related Articles
Suplemen Sinbiotik Memperbaiki Status Nutrisi Anak Stunting di Indonesia
dr. Josephine Herwita | 16 Mar 2023
Kombinasi Proton Pump Inhibitor dan Domperidone Aman dan Efektif untuk Pengobatan GERD Anak dan Dewasa
dr. Josephine Herwita | 26 Jan 2023
Keamanan Polyethylene glycol pada Sediaan Obat Oral dan Parenteral
dr. Josephine Herwita | 21 Okt 2022
Polyethylene glycol Berbeda dengan Ethylene glycol yang Diduga Menyebabkan Gagal Ginjal Akut pada Anak
dr. Josephine Herwita | 20 Okt 2022
Penggunaan Larutan PEG 3350 dengan Sport Drink sebagai Bowel Preparation untuk Prosedur Kolonoskopi
dr. Josephine Herwita | 17 Okt 2022
Filgotinib Efektif Meredakan Gejala Pasien Ulcerative Colitis
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 07 Okt 2022
Suplementasi Probiotik BB-12 dan LGG Menurunkan Kolonisasi Bakteri Patogen pada Bayi Prematur
dr. Josephine Herwita | 06 Okt 2022
Efektivitas dan Keamanan PEG 3350 Lebih Baik Dibanding Laktulosa pada Konstipasi Fungsional Anak
dr. Josephine Herwita | 21 Sep 2022
Sinbiotik Efektif Mencegah Infeksi Nosokomial pada Pasien Kritis Dewasa
dr. Josephine Herwita | 23 Agt 2022
Suplementasi Probiotik Strain Lactobacillus dan Bifidobacterium pada Wanita Hamil Mencegah Eksema pada Anak
dr. Josephine Herwita | 18 Jul 2022