Detail Article

Serplulimab Tingkatkan Efektivitas Terapi Perioperatif Kanker Lambung

dr Michael Jaya Saputra
Sep 30
Share this article
79928634311c56d63e391db14f49e110.jpg
Updated 01/Okt/2026 .

Pada Juni 2026, serplulimab memperoleh persetujuan dari National Medical Products Administration (NMPA) China untuk digunakan bersama kemoterapi sebagai terapi neoadjuvant pada kanker lambung resectable dengan ekspresi PD-L1 combined positive score (CPS) ≥5, kemudian dilanjutkan dengan serplulimab monoterapi setelah operasi.

Berdasarkan status per 9 Juni 2026, persetujuan ini menjadikan serplulimab sebagai antibodi monoklonal anti-PD-1 pertama yang disetujui untuk terapi perioperatif kanker lambung. Regimen tersebut tidak sepenuhnya bebas kemoterapi karena SOX tetap diberikan sebelum operasi, tetapi memungkinkan fase adjuvant tanpa kemoterapi. Kemoterapi perioperatif menjadi salah satu pendekatan utama pada kanker lambung resectable. Namun, kemoterapi setelah gastrektomi dapat menjadi tantangan karena pasien masih dalam masa pemulihan dan toleransi terhadap terapi sistemik dapat menurun. 


Sejumlah studi kemudian mengevaluasi imunoterapi perioperatif. KEYNOTE-585 meningkatkan respons patologis tetapi analisis final tidak menunjukkan perbaikan overall survival (OS) yang signifikan, sedangkan MATTERHORN menunjukkan perbaikan event-free survival (EFS) dengan durvalumab plus FLOT yang tetap mempertahankan kemoterapi sebelum dan setelah operasi. ASTRUM-006 mengevaluasi strategi berbeda, yaitu intensifikasi sebelum operasi dengan serplulimab plus SOX, diikuti serplulimab monoterapi setelah operasi. ASTRUM-006 merupakan studi fase III, randomized, double-blind, dan multisenter yang melibatkan 588 pasien berusia 18–70 tahun dengan adenokarsinoma lambung atau gastroesophageal junction (GEJ) lokal lanjut, resectable, dan PD-L1 CPS ≥5. Pasien diacak 1:1 untuk menerima tiga siklus serplulimab 4,5 mg/kg plus SOX sebelum operasi, kemudian serplulimab monoterapi hingga 17 siklus. Kelompok kontrol menerima plasebo plus SOX sebelum operasi dan lima siklus SOX setelah operasi. Primary endpoint adalah EFS berdasarkan penilaian investigator, yang diuji terlebih dahulu pada populasi PD-L1 CPS ≥10, kemudian pada populasi intention-to-treat dengan CPS ≥5.


Event-Free Survival dan Respons Patologis Meningkat

Pada populasi PD-L1 CPS ≥10, setelah median follow-up 42,7 bulan, median EFS belum tercapai pada kelompok serplulimab dibandingkan 42,0 bulan pada kelompok kontrol (HR 0,65; 95% CI 0,47–0,90; p=0,0082), yang menunjukkan penurunan risiko progresi, kekambuhan, keganasan baru, atau kematian sebesar 35%. Tingkat EFS pada 2 dan 3 tahun masing-masing mencapai 70% dan 61% dengan serplulimab, dibandingkan 54% dan 52% pada kelompok kontrol.


Manfaat tersebut juga terlihat pada keseluruhan populasi PD-L1 CPS ≥5. Median EFS belum tercapai dengan serplulimab dibandingkan 35,9 bulan pada kelompok kontrol (HR 0,73; 95% CI 0,56–0,94; p=0,015). Tingkat EFS pada 2 tahun adalah 65% vs 54%, sedangkan pada 3 tahun mencapai 57% vs 49%. Penilaian independen terpusat memberikan hasil yang konsisten. Pathological complete response (pCR) juga lebih tinggi dengan serplulimab, yaitu 22% vs 6% pada populasi CPS ≥5 dan 26% vs 6% pada populasi CPS ≥10. Tingkat reseksi R0 tetap tinggi dan serupa pada kedua kelompok, sekitar 97% pada pasien yang menjalani operasi.


Toksisitas Lebih Rendah pada Fase Adjuvan

Secara keseluruhan, treatment-related adverse events (TRAEs) grade ≥3 terjadi pada 47% pasien kelompok serplulimab dibandingkan 59% pada kelompok kontrol. Penghentian regimen akibat TRAE juga lebih rendah, yaitu 7% vs 11%. TRAE grade

≥3 yang paling sering meliputi trombositopenia, neutropenia, limfopenia, anemia, dan leukopenia.

Perbedaan keamanan paling relevan terlihat setelah operasi. Pada pasien yang menerima terapi adjuvant, kejadian efek samping grade ≥3 adalah 16% dengan serplulimab monoterapi dibandingkan 34% dengan SOX, sedangkan penghentian terapi terjadi pada 4% vs 8%.


Makna Klinis

ASTRUM-006 menunjukkan bahwa strategi perioperatif dapat dirancang dengan kemoterapi pada fase neoadjuvant dan imunoterapi tunggal pada fase adjuvant. Pendekatan ini berbeda dari KEYNOTE-585 dan MATTERHORN, yang tetap mengombinasikan imunoterapi dengan kemoterapi setelah operasi. Namun, ASTRUM-006 mengevaluasi keseluruhan strategi perioperatif, bukan kontribusi serplulimab adjuvant secara terpisah. Oleh karena itu, manfaat EFS tidak dapat diatribusikan hanya pada penggantian kemoterapi pascaoperasi dengan serplulimab.


Persetujuan serplulimab di China menetapkan tonggak baru sebagai anti-PD-1 pertama untuk terapi perioperatif kanker lambung resectable dengan PD-L1 CPS ≥5. Dalam ASTRUM-006, serplulimab plus SOX sebelum operasi yang dilanjutkan dengan serplulimab monoterapi setelah operasi memperbaiki EFS dan pCR dibandingkan SOX perioperatif, sekaligus menurunkan toksisitas grade ≥3 pada fase adjuvant. Nilai utama strategi ini memungkinkan fase pascaoperasi tanpa kemoterapi pada populasi terpilih. 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Freepik)

Refrensi:

  1. Shen L, Zhang X, Ji K, Lu L, Wang Q, Guan Q, et al. Perioperative serplulimab with neoadjuvant chemotherapy versus perioperative chemotherapy in PD-L1-positive gastric cancer (ASTRUM-006): a randomized, double-blind, multicentre, phase 3 study. Lancet. 2026;407(10547):2542–53.
  2. Janjigian YY, Al-Batran S-E, Wainberg ZA, Muro K, Molena D, Van Cutsem E, et al. Perioperative durvalumab in gastric and gastroesophageal junction cancer. N Engl J Med. 2025;393:217–30.
  3. Shitara K, Rha SY, Wyrwicz LS, Oshima T, Karaseva N, Osipov M, et al. Pembrolizumab plus chemotherapy versus chemotherapy as perioperative therapy in locally advanced gastric and gastroesophageal junction cancer: final analysis of the randomized, phase III KEYNOTE-585 study. J Clin Oncol. 2025;43(29):3152–9.
Share this article
Related Articles
Related Products
3eee1bb4d497d9cdcc82fd54411104c7.jpg
d9e04228feba274e954728ecbe866edb.jpg
822b20921961ae70f628331602b6c75f.png
d4bfe15065c16639caec2214281140e0.jpg
0d5d162fa2b93e7bdc58203d9383226f.jpg
329f06f44e84c415597b1b0760b54e06.jpeg
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
1046037dbefa23f6968f2afa2bc93bce.jpg
7f07afe13fa3ef94dd63c6c9dc4eeba4.jpeg
a8a81ad63171e8889ddbe0ad5d5f2814.jpg