Menua atau aging adalah proses alami, tetapi dampaknya pada tubuh sering kali terasa sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu perubahan yang paling penting secara klinis adalah menurunnya massa dan fungsi otot, yang pada lansia ditandai sebagai keadaan lemah saat berdiri dari kursi, berjalan melambat, cepat lelah, hingga meningkatnya risiko jatuh. Kondisi ini sering terkait dengan sarkopenia—gangguan otot progresif yang berpengaruh pada kemandirian, kualitas hidup, serta beban perawatan kesehatan. Di banyak pedoman, aktivitas fisik (khususnya latihan resistensi) tetap menjadi terapi utama. Namun, intervensi nutrisi, terutama peningkatan asupan protein, juga berperan besar sebagai bahan baku pembentukan dan pemeliharaan otot.
Secara fisiologis, lansia sering mengalami anabolic resistance, yaitu respons pembentukan otot terhadap asupan protein menjadi lebih rendah dibandingkan usia muda. Hal ini membuat strategi peningkatan protein perlu dirancang lebih terarah: bukan sekadar menambah jumlah protein, tetapi memastikan pola makan yang konsisten dan dapat diterima lansia. Kedelai dipilih karena merupakan sumber protein lengkap (mengandung semua asam amino esensial), mudah diaplikasikan dalam masakan sehari-hari, relatif terjangkau, dan relevan pada populasi dengan intoleransi laktosa.
Usus dan mikrobiota (komunitas bakteri di saluran cerna) turut memengaruhi metabolisme, inflamasi, dan kemungkinan besar performa otot. Mikrobiota usus pada lansia cenderung berubah: keragaman bisa menurun, patogen oportunistik dapat meningkat, dan inflamasi kronik derajat rendah (inflammaging) menjadi lebih umum. Kondisi-kondisi tersebut dapat mempercepat katabolisme otot. Dari sini muncul hipotesis gut–muscle axis: bila intervensi diet mampu menggeser mikrobiota ke arah yang lebih “menguntungkan”, misalnya meningkatkan bakteri penghasil short chain fatty acid (SCFA) dan menurunkan jalur inflamasi, maka kesehatan otot pun dapat ikut membaik.
Penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak terkontrol (RCT) selama 12 minggu:
- Kelompok intervensi/Soy: makan 3 kali sehari, tiap makan ditambah 10 g protein kedelai (total 30 g/hari).
- Kelompok kontrol: makan seperti biasa tanpa tambahan protein kedelai.
- Analisis mikrobiota dan SCFA dilakukan pada subkelompok peserta yang memberikan sampel feses lengkap, total 53 orang (Soy n=25; Kontrol n=28).
Setelah intervensi 12 minggu didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Outcome otot dan fungsi fisik setelah 12 minggu
- Kelompok Soy mempertahankan/meningkatkan lingkar betis, sementara kelompok kontrol mengalami penurunan. Perubahan lingkar betis (minggu 12–minggu 0): Kelompok Soy: +0,56 ± 0,22 cm vs kelompok kontrol: −0,91 ± 0,26 cm (p < 0,001)
- Perubahan 6-meter walk time (arah perubahan): Kelompok Soy cenderung menurun (lebih cepat) vs kelompok kontrol: cenderung meningkat (lebih lambat) (p = 0,05).
- Skeletal Muscle Index/SMI: Kelompok Soy menunjukkan tren naik vs kelompok control dengan tren turun (perbedaan antar kelompok tidak signifikan).
- Outcome lain (SPPB/ short physical performance battery, HGS/hand grip strength, 5-time chair stand): Kedua kelompok menunjukkan pola perubahan yang relatif serupa; tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok.
2. Penanda inflamasi (IL‑6)
- IL‑6 pada kelompok Soy turun secara signifikan dari baseline ke minggu 12 vs IL‑6 pada kelompok kontrol tidak berubah secara signifikan. Penurunan IL‑6 menguatkan dugaan bahwa intervensi diet protein kedelai terkait dengan perbaikan lingkungan inflamasi, yang secara teoritis dapat membantu pemeliharaan otot.
3. Perubahan mikrobiota usus (spesies tertentu). Studi menemukan perubahan spesies yang dianggap “menguntungkan” meningkat dan beberapa spesies yang diasosiasikan dengan luaran lebih buruk menurun.
Spesies yang menguntungkan:
- Roseburia faecis (penghasil SCFA): Kelompok Soy +0,42 ± 0,21% vs kelompok kontrol −0,06 ± 0,16%; p< 0,05
- Agathobaculum butyriciproducens (penghasil butirat): Kelompok Soy +0,02 ± 0,007%, p (waktu) < 0,01 vs kelompok kontrol −0,04 ± 0,01% (menurun)
Spesies yang merugikan (dikaitkan dengan luaran otot yang kurang baik):
- Alistipes putredinis: Kelompok Soy −0,88 ± 0,40% vs kelompok kontrol +0,62 ± 0,63%; p < 0,05
- Eubacterium_sp_CAG_38: Kelompok Soy −0,64 ± 0,28% vs kelompok kontrol +0,10 ± 0,22%; p< 0,05
- Fenotipe aerobik bakteri (W12–W0): Kelompok Soy −0,004 ± 0,002 vs kelompok kontrol +0,001 ± 0,001; p< 0,05
4. SCFA feses (butirat, isobutirat, isovalerat) pada kelompok Soy naik signifikan di minggu ke‑6 vs baseline:
- Butirat: +0,72 (95% CI 0,07–1,37), p=0,03
- Isobutirat: +0,13 (95% CI 0,02–0,25), p=0,03
- Isovalerat: +0,26 (95% CI 0,03–0,49), p=0,03.
Kemudian terjadi penurunan parsial menuju baseline pada minggu ke‑12, sedangkan pada kelompok kontrol tidak signifikan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi makanan kaya protein kedelai 30 g/hari selama 12 minggu pada lansia di fasilitas perawatan jangka panjang berhubungan dengan pemeliharaan lingkar betis yang secara statistik sangat bermakna dibanding kontrol. Terdapat pula sinyal perbaikan pada parameter mobilitas (uji 6 meter walk time; p=0,05) dan penurunan inflamasi yang kuat melalui penurunan IL‑6 pada kelompok intervensi (p<0,001). Secara mekanistik, intervensi terkait dengan perubahan mikrobiota: peningkatan bakteri penghasil SCFA (misalnya Roseburia faecis) dan penurunan beberapa spesies yang berasosiasi dengan luaran otot kurang baik (misalnya Alistipes putredinis, Eubacterium_sp_CAG_38). SCFA feses tidak menunjukkan perbedaan interaksi antar kelompok, tetapi ada peningkatan sementara di minggu ke‑6 pada kelompok Soy (misalnya butirat p=0,03), yang dapat mencerminkan respons metabolik usus yang dinamis.
Kesimpulan:
Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan otot tidak berdiri sendiri. Usus dan mikrobiota (komunitas bakteri di saluran cerna) turut memengaruhi metabolisme, inflamasi, dan kemungkinan besar performa otot. Hasil penelitian ini mendukung penggunaan protein kedelai sebagai strategi nutrisi praktis untuk mencegah sarkopenia lansia melalui perbaikan ekosistem usus dan penekanan inflamasi.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: jcomp-Freepik)
Referensi:
1. Wu X, Lim KJ, Ma Y, Gu J, Jiang Y, Zhu L, Chen Y, Sun J. The Effects of Soy Protein-Rich Meals on Muscle Health of Older Adults Are Linked to Gut Microbiome Modifications. J Cachexia Sarcopenia Muscle. 2026 Feb;17(1):e70212. doi: 10.1002/jcsm.70212. PMID: 41582618; PMCID: PMC12833501.
2. Han, M.; Woo, K.; Kim, K. Association of Protein Intake with Sarcopenia and Related Indicators Among Korean Older Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Nutrients 2024, 16, 4350. https://doi.org/10.3390/nu16244350