Tegoprazan dosis tunggal 50 mg memberikan respons klinis yang lebih tinggi dibandingkan rabeprazole dosis ganda terbagi (2x20 mg) pada GERD refrakter (80,0% vs 63,6%), dan menunjukkan keunggulan yang signifikan pada pasien dengan AET abnormal ≥4% (84,2% vs 50.0%; p = 0,02).
Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan kondisi kronis dan dapat menyebabkan relaps yang terjadi ketika isi lambung mengalami refluks ke esofagus sehingga menimbulkan gejala seperti heartburn dan regurgitasi. Meskipun prevalensi GERD relatif lebih rendah di Asia dibandingkan negara Barat, angka kejadiannya diperkirakan terus meningkat seiring perubahan pola makan, peningkatan populasi usia lanjut, serta meningkatnya deteksi melalui endoskopi saluran cerna atas.
Proton pump inhibitor (PPI) merupakan terapi utama GERD melalui mekanisme supresi sekresi asam lambung, namun faktanya 40% pasien masih mengalami gejala. GERD refrakter didefinisikan sebagai kondisi ketika gejala tidak membaik setelah penggunaan PPI selama setidaknya 8 minggu. Penggunaan PPI ditemukan kurang efektif pada sebagian pasien, terutama pada mereka dengan non-erosive reflux disease (NERD). Sebagian pasien tetap mengalami gejala meskipun telah mendapatkan PPI secara adekuat. Hal ini disebabkan oleh beberapa keterbatasan yang mendasari kegagalan terapi PPI yang dirangkum pada tabel di bawah ini.
Kategori
Mekanisme/Keterbatasan
Mekanisme kegagalan PPI
• Refluks nokturnal (malam hari)
• Resistensi terhadap PPI
• Bioavailabilitas PPI yang menurun
• Metabolisme PPI yang cepat
• Refluks asam lemah (weakly acidic reflux)
• Hipersensitivitas visceral
• Kepatuhan pasien (compliance) yang kurang baik
• Pengosongan lambung yang lambat
Keterbatasan PPI
• Respons terapi yang tidak memadai
• Waktu paruh plasma yang pendek
• Perlunya pemberian sebelum makan (preprandial dosing)
• Berpotensi menyebabkan infeksi enterik
• Dipengaruhi oleh polimorfisme gen CYP2C19
• Ketidakstabilan dalam kondisi asam
Selain itu, beberapa studi mulai mempertanyakan keamanan penggunaan PPI jangka panjang. Penggunaan PPI dalam waktu lama diketahui dapat meningkatkan risiko kolonisasi dan infeksi bakteri, gangguan absorpsi nutrisi, serta berbagai efek samping nonspesifik lainnya, seperti demensia dan gangguan ginjal kronis.
Pada pasien dengan respons yang tidak adekuat terhadap dosis standar PPI, salah satu strategi yang digunakan adalah meningkatkan terapi menjadi double split dose PPI. Menurut Konsensus Nasional Penatalaksanaan GERD oleh Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) tahun 2022, pada kasus GERD refrakter optimalisasi terapi PPI adalah lini pertama, yaitu peningkatan dosis PPI, penggantian jenis PPI, atau penambahan H2RA, bahkan disebutkan pilihan untuk mengganti PPI dengan P-CAB untuk mengurangi gejala pada pasien GERD refrakter.
Salah satu keterbatasan PPI adalah waktu paruh plasma yang relatif singkat (sekitar 60–90 menit), membutuhkan lingkungan asam untuk aktivasi, dipengaruhi waktu makan, serta memiliki onset kerja yang relatif lambat. Sebaliknya, potassium-competitive acid blocker (PCAB) bekerja dengan menghambat H+/K+-ATPase secara langsung dan reversibel, tidak membutuhkan aktivasi oleh kondisi asam, memiliki onset yang cepat, durasi kerja lebih panjang, dan dapat diberikan tanpa bergantung pada waktu makan.
Atas dasar tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas PCAB (tegoprazan) dengan double split dose PPI (rabeprazole) pada pasien dengan gejala GERD refrakter, serta mengevaluasi apakah efektivitas terapi berbeda berdasarkan esophageal acid exposure time (AET).
Metode penelitian
Penelitian ini merupakan retrospective, controlled case series yang dilakukan pada pasien dengan gejala GERD refrakter selama periode Maret 2020–Maret 2023. Terapi dilakukan berdasarkan keputusan klinis dan bukan secara randomisasi, sehingga menggambarkan praktik klinis real-world.
Pasien yang masuk penelitian memiliki gejala refrakter setelah tidak memberikan respons terhadap terapi PPI konvensional selama >8 minggu. Seluruh pasien menjalani evaluasi berupa: esophagogastroduodenoscopy/EGD, esophageal manometry, dan 24-hour ambulatory esophageal pH monitoring.
AET didefinisikan sebagai persentase waktu selama pemantauan ketika pH esofagus <4. Dalam penelitian ini, AET ≥4% dianggap sebagai pathological/abnormal acid reflux. Selain itu, symptom index (SI) dianggap positif bila ≥50%, sedangkan symptom association probability (SAP) dianggap positif bila ≥95%. Sebanyak 63 pasien awalnya dievaluasi dan dibagi menjadi 2 kelompok:
- Kelompok terapi PPI (Rabeprazole 20 mg), double split dose, n=33
- Kelompok terapi PCAB (Tegoprazan 50 mg), sekali sehari, n=30
Terapi diberikan selama 2 minggu. Derajat gejala dinilai menggunakan Visual Analog Scale (VAS) 0–10 sebelum dan setelah terapi. Positive response didefinisikan sebagai perbaikan >50% pada skor VAS setelah dua minggu terapi.
Karakteristik studi
Karakteristik awal kedua kelompok secara umum tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Usia rata-rata kelompok PPI adalah 62,6 ± 10,8 tahun dibandingkan 58,1 ± 13,4 tahun pada kelompok PCAB (p=0,47). Proporsi pasien dengan AET ≥4% adalah 54,5% (18/33) pada kelompok PPI dan 63,3% (19/30) pada kelompok PCAB.
Hasil penelitian
A. Respons terapi secara keseluruhan
- Pada kelompok double split dose PPI, sebanyak 21 dari 33 pasien (63,6%) menunjukkan respons positif. Sebaliknya, pada kelompok PCAB/tegoprazan, sebanyak 24 dari 30 pasien (80,0%) menunjukkan respons positif.
- Dengan demikian, secara numerik respons terhadap PCAB lebih tinggi dibandingkan PPI: 80,0% vs 63,6%. Namun, perbedaan tersebut belum signifikan secara statistik, p = 0,15.
B. Pasien dengan abnormal/ pathological acid exposure
- Temuan yang lebih menarik terlihat ketika analisis difokuskan pada pasien dengan abnormal AET (≥4%). Pada kelompok PPI terdapat 18 pasien dengan abnormal AET. Dari jumlah tersebut, hanya: 9/18 pasien (50,0%) yang menunjukkan respons positif. Sementara itu, kelompok PCAB memiliki 19 pasien dengan abnormal AET dan: 16/19 pasien (84,2%) menunjukkan respons positif.
- Perbedaan respons: PCAB 84,2% vs PPI 50,0%; p = 0,02
- Perbedaan tersebut signifikan secara statistik dan menunjukkan bahwa PCAB memberikan respons klinis yang lebih baik dibandingkan double split dose PPI khususnya pada pasien dengan bukti objektif peningkatan paparan asam esofagus.
Secara ringkas:
Outcome
Double split dose PPI
PCAB/ Tegoprazan
p-value
Overal positive response
63,6% (21/33)
80,0% (24/30)
0,15
Positive response pada abnormal AET ≥ 4%
50,0% (9/18)
84,2% (16/19)
0,02
AET ≥ 4% pada baseline
54,5% (18/33)
63,3% (19/30)
Data pada penelitian juga menunjukkan respons pada pasien tanpa abnormal AET sebesar sekitar 80,0% pada PPI vs 72,7% pada PCAB, tanpa perbedaan bermakna. Dengan demikian, kelebihan PCAB terutama terlihat pada pasien yang true abnormal acid exposure.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pasien dengan gejala refractory GERD mendapatkan keuntungan tambahan yang sama dari PCAB. Pada keseluruhan populasi, PCAB memang menghasilkan angka respons numerik lebih tinggi, tetapi belum signifikan secara statistik. Sebaliknya, ketika pasien diseleksi berdasarkan bukti objektif adanya pathological acid exposure (AET ≥4%), keuntungan PCAB menjadi jauh lebih jelas: 84,2% vs 50,0%, dengan p=0,02. Hasil tersebut berkaitan dengan karakteristik farmakologis PCAB. Berbeda dengan PPI, PCAB tidak memerlukan aktivasi oleh asam lambung dan dapat berikatan dengan proton pump secara lebih kontinu.
Oleh karena itu, supresi asam yang lebih kuat dan konsisten berpotensi memberikan manfaat khusus pada pasien refractory GERD yang memang memiliki true abnormal acid exposure.
Kesimpulan
Tegoprazan 50 mg menunjukkan respons klinis yang lebih tinggi dibandingkan double split-dose rabeprazole 20 mg pada pasien GERD refrakter, yaitu 80.0% vs 63,6% (p=0,15). Namun, pada pasien dengan abnormal acid exposure (AET ≥4%), tegoprazan menunjukkan hasil yang signifikan dibandingkan rabeprazole: 84,2% (16/19) vs 50.0% (9/18), p = 0,02.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: chormail - Envato elements)
Refrensi:
- Lim NR, Chung WC. The Efficacy of Potassium-Competitive Acid Blocker Compared With Double Dose of Proton Pump Inhibitor in Patients With Refractory Gastro-Esophageal Reflux Disease: A Case-Control Study. Korean J Helicobacter Up Gastrointest Res. 2025 Dec;25(4):350-354. doi: 10.7704/kjhugr.2025.0045. Epub 2025 Dec 4. PMID: 41382366; PMCID: PMC12699069.
- Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) di Indonesia (Revisi 2022). Jakarta: PIP Interna, Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2022.
- Gunawan VA, Sugihartono T. Redefining GERD management: The emerging role of potassium-competitive acid blockers. Gulhane Med J.2025;67(1):1-7. doi:10.4274/gulhane.galenos.2024.55822
- Abraham P, Choudhuri G, Deshmukh S, Kak M, Tiwaskar M, Kochhar R, Sinha SK, Panigrahi SC, Shandil R, Khanna M, Garg R. Management of Refractory Gastroesophageal Reflux Disease: An Indian Expert Group Consensus Statements. J Assoc Physicians India. 2025 Mar 1;73:e29-36.