Detail Article

Peran Lactobacillus dan Bifidobacterium pada Rhinitis Alergi Dewasa dan Anak

dr. Elda O. Panggabean, MKK
Okt 19
Share this article
815476b3e2791e368fa5fee8d04267cf.jpg
Updated 20/Okt/2026 .

Lactobacillus dan Bifidobacterium berpotensi sebagai terapi adjuvan pada allergic rhinitis, terutama untuk membantu memperbaiki gejala dan kualitas hidup. Berdasarkan studi klinis yang tersedia, dosis yang banyak diteliti berada pada kisaran sekitar 2×10⁹–1×10¹⁰ CFU/hari pada anak dan sekitar 4×10⁹–1×10¹⁰ CFU/hari pada dewasa, dengan lama terapi umumnya 4–12 minggu. 

Allergic rhinitis merupakan peradangan pada mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) dan ditandai oleh dominasi respons imun tipe Th2. Selain proses inflamasi yang terjadi secara lokal di saluran napas, studi menunjukkan adanya hubungan antara usus, sistem imun, dan saluran napas (gut–immune–airway axis). Ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi perkembangan dan regulasi sistem imun, termasuk fungsi regulatory T cells (Treg), keseimbangan respons Th1/Th2/Th17, produksi sitokin, serta pembentukan metabolit seperti short-chain fatty acids (SCFA). Dalam konteks ini, Lactobacillus dan Bifidobacterium menjadi genus probiotik yang paling banyak dan konsisten diteliti karena kemampuannya dalam membantu menjaga keseimbangan respons imun yang berperan pada perjalanan penyakit allergic rhinitis.


Secara biologis, efek probiotik tidak hanya bergantung pada penurunan IgE. Studi pada referensi menunjukkan mekanisme yang lebih luas: peningkatan respons regulator/Treg dan IL-10, pergeseran dari pola Th2 menuju respons imun yang lebih seimbang, penurunan IL-4/IL-5 pada beberapa model, serta perubahan fungsi metabolik mikrobiota. Karena itu, perbaikan klinis dapat terjadi meskipun total IgE tidak berubah secara bermakna. Hal ini penting karena beberapa meta-analisis memang memperlihatkan improvement pada gejala dan quality of life tanpa penurunan IgE yang konsisten.


Peran Bifidobacterium

Secara keseluruhan dari literatur, Bifidobacterium memberikan manfaat yang cukup kuat, terutama pada multi-strain Bifidobacterium dan kombinasi Bifidobacterium–Lactobacillus. Narrative review oleh Mishra et al. bahkan mencatat bahwa Bifidobacterium berada di antara intervensi probiotik dengan manfaat yang sangat baik terhadap IgE, sedangkan kombinasi multi-strain Bifidobacterium menunjukkan efikasi terbaik dalam menurunkan RQLQ pada analisis tersebut. Temuan ini juga mempunyai dasar biologis sejak awal kehidupan. Pada suatu studi kohort di Finlandia, diagnosis rhinitis alergi sampai usia 13 tahun berkaitan dengan jumlah Bifidobacterium yang lebih rendah pada masa bayi. Pada analisis subkelompok, hubungan protektif antara Bifidobacterium dan kejadian rhinitis di kemudian hari tetap konsisten setelah dilakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, termasuk cara persalinan, penggunaan antibiotik, konsumsi probiotik, dan riwayat ASI eksklusif. Dengan kata lain, hasil penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa Bifidobacterium secara langsung mencegah rhinitis alergi. Namun, temuan tersebut mendukung dugaan bahwa mikrobiota usus yang kaya Bifidobacterium cenderung berhubungan dengan sistem imun yang lebih seimbang dan toleran terhadap alergen, sehingga berpotensi menurunkan risiko terjadinya AR.


Peran Lactobacillus

Meskipun Lactobacillus memiliki jumlah penelitian klinis yang lebih banyak pada rhinitis alergi, hasil yang diperoleh tidak selalu konsisten antarstrain. Beberapa strain, seperti L. paracasei LP-33, L. salivarius, L. johnsonii EM1, L. gasseri, L. acidophilus, dan L. plantarum, menunjukkan manfaat dalam mengurangi gejala pada hidung (hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung berair, serta rasa gatal), menurunkan penggunaan obat, atau meningkatkan kualitas hidup. Namun, tidak semua strain memberikan efek yang sama. Sebagai contoh, L. rhamnosus GG (LGG) sebagai probiotik tunggal tidak secara konsisten menunjukkan manfaat pada AR, termasuk pada studi yang melibatkan pasien dengan alergi serbuk sari birch. Oleh karena itu, bukti yang ada tidak menunjukkan bahwa semua strain Lactobacillus memberikan manfaat yang sama pada rhinitis alergi. Efektivitasnya sangat bergantung pada strain yang digunakan (strain-specific). Selain itu, kombinasi Lactobacillus dan Bifidobacterium tampaknya memberikan hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan penggunaan Lactobacillus saja.


Studi penggunaan probiotik pada AR

Anak: Meta-analisis Luo et al. dengan 28 RCT dan total subjek pediatri 4.765, probiotik memberikan perbiakan signifikan terhadap: Total nasal symptom score (TNSS): SMD -2,27; 95% CI -3,26 hingga -1,29; P<0.00001, itchy nose: SMD -0,44; 95% CI -0,80 hingga -0,07; P=0.02, eye symptoms: SMD -3,77; 95% CI -5,47 hingga -2,07; P<0.00001, pediatric rhinoconjunctivits QoL (PRQLQ): SMD -2,52; 95% CI -4,12 hingga -0,92; P<0.00001. Dari hasil studi ini, pada anak yang sudah menderita AR, probiotik memberikan sinyal yang konsisten untuk mengontrol gejala dan perbaikan kualitas hidup. Berdasarkan data dari clinical evidence yang ada, rentang dosis probiotik yang disebutkan adalah 2x109 sampai 1x1010 CFU/ hari, dengan sebagian besar studi efektif berada di sekitar 4-5x109 CFU/ hari, diberikan sekitar 4-12 minggu.  

Dewasa: Studi Hou et al. (2024) menggunakan kombinasi beberapa Bifidobacterium dan Lactobacillus, yaitu B. longum, B. infantis, L. acidophilus, L. paracasei, LacoBifidobacterium, dan L. gasseri bersama dengan prebiotik selama 90 hari. Dari 106 pasien yang menyelesaikan penelitian, TNSS berkurang lebih besar dibanding plasebo (P=0.04). Berdasarkan data dari clinical evidence yang ada, rentang dosis probiotik yang disebutkan adalah 4x109 CFU/ hari selama 8 minggu.

Kombinasi Lactobacillus dan Bifidobacterium


Keberadaan Bifidobacterium dikaitkan dengan terbentuknya lingkungan imunologis yang lebih tolerogenic, artinya suatu kondisi ketika sistem imun mampu mempertahankan keseimbangan respons imun dan membatasi proses inflamasi yang berlebihan. Sedangkan, Lactobacillus merupakan strain yang memiliki aktivitas imunomodulator yang beragam, termasuk pengaruh terhadap Th1/Th2, regulasi sitokin, dan pengendalian gejala. 


Pada AR, peran Lactobacillus dan Bifidobacterium terutama dikaitkan dengna kemampuannya dalam membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan memodulasi respons imun. Kondisi disbiosis memengaruhi regulasi sistem imun sehingga menjadi respons alergi yang berlebihan. Dengan memperbaiki komposisi mikrobiota usus, kedua genus probiotik ini dapat membantu menciptakan lingkungan imun yang lebih seimbang. Melalui interaksi antara mikrobiota usus dan sistem imun, Lactobacillus dan Bifidobacterium dapat memengaruhi aktivitas sel dendritik, sel T regulator, serta produksi berbagai sitokin. Salah satu mekanisme yang banyak dibahas adalah membantu menyeimbangkan respons Th1 dan Th2. Pada AR, respons imun cenderung bergeser ke arah Th2, yang berkaitan dengan peningkatan mediator alergi seperti IL-4, IL-5, IL-13, dan produksi IgE. Probiotik tertentu dapat membantu mengurangi dominasi respons Th2 sekaligus meningkatkan respons regulator seperti IL-10. 


Efek ini kemudian dapat berdampak pada berkurangnya proses inflamasi alergi, termasuk infiltrasi eosinofil dan aktivitas sel inflamasi lain yang berperan dalam munculnya gejala seperti bersin, pilek, hidung gatal, dan hidung tersumbat. Manfaat klinis probiotik tidak selalu disertai dengan penurunan kadar IgE. Beberapa studi menunjukkan bahwa gejala dan kualitas hidup pasien dapat membaik walaupun total IgE atau allergen-specific IgE tidak berubah secara bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa efek Lactobacillus dan Bifidobacterium kemungkinan bekerja melalui mekanisme imunomodulasi yang lebih luas, bukan hanya melalui penurunan IgE. Secara keseluruhan, Bifidobacterium dan Lactobacillus tepat diposisikan sebagai terapi adjuvan pada AR, terutama untuk membantu mengurangi gejala dan memperbaiki kualitas hidup. Kombinasi Bifidobacterium  dan Lactobacillus dinilai cukup baik dalam AR karena dapat memberikan efek yang saling melengkapi melalui modulasi gut–immune–airway axis.


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Nadianb - Envato elements)

Referensi:

  1. Mishra T, Sasanka KSK, TY SS, Bano G, Panda S, Raj MM, et al. Efficacy of Lactobacillus and Bifidobacterium in allergic rhinitis: a narrative review. Cureus. 2025;17(7):e87644. doi:10.7759/cureus.87644. 
  2. Hou Y, Wang D, Zhou S, Huo C, Chen H, Li F, et al. Probiotics combined with prebiotics alleviated seasonal allergic rhinitis by altering the composition and metabolic function of intestinal microbiota: a prospective, randomized, double-blind, placebo-controlled clinical trial. Front Immunol. 2024;15:1439830. doi:10.3389/fimmu.2024.1439830. 
  3. Luo X, Wang H, Liu H, Chen Y, Tian L, Ji Q, et al. Effects of probiotics on the prevention and treatment of children with allergic rhinitis: a meta-analysis of randomized controlled trials. Front Pediatr. 2024;12:1352879. doi:10.3389/fped.2024.1352879. 
  4. Kallio S, Jian C, Korpela K, Kukkonen AK, Salonen A, Savilahti E, et al. Early-life gut microbiota associates with allergic rhinitis during 13-year follow-up in a Finnish probiotic intervention cohort. Microbiol Spectr. 2024;12(6):e04135-23. doi:10.1128/spectrum.04135-23. 
  5. Sardar D, Banerjee P, Alam A, Islam MS. The probiotics for the treatment of allergic rhinitis: a systematic review of randomized controlled trials. J BioSci Biotechnol. 2025;14(1):13-28. doi:10.69085/jbb20251013
Share this article
Related Articles
Related Products
23bb11355af33bda5f354665951187a6.jpg
675849deb1dfbe178e826a3854285e42.jpg
d628c4048581c338e4b0b9384d35b0c9.jpg
441015e66962321975b9c5d4b52134d5.jpeg
d9e04228feba274e954728ecbe866edb.jpg
822b20921961ae70f628331602b6c75f.png
329f06f44e84c415597b1b0760b54e06.jpeg
fa50bf2bdd8fd455d4fe11155ccbdc36.jpg
c7c0e11200cf65222818cc584083274d.jpg
fd059a6d94bb9958958f58a351c99ad1.jpg