Tumor gene expression tests secara luas dimanfaatkan untuk membantu keputusan kemoterapi adjuvan pada pasien dengan early breast cancer (EBC). Uji klinik OPTIMA (Optimal Personalised Treatment of early breast cancer using Multi-parameter Analysis) menginvestigasi efektivitas penggunaan Prosigna (PAM50) gene expression test untuk mengarahkan jalur pengobatan yang kritis ini. Dengan membandingkan strategi test-directed treatment melawan standar kemoterapi yang diikuti oleh terapi endokrin, studi ini bertujuan untuk mempersonalisasi perawatan bagi pasien dengan high clinical risk ER-positive, HER2-negative EBC, terutama difokuskan pada mereka dengan node-positive disease.
Dalam manajemen early breast cancer (EBC), tumor gene expression tests telah menjadi alat penting untuk memandu keputusan terkait kemoterapi adjuvan. Uji klinik OPTIMA adalah sebuah randomized controlled trial (RCT) internasional yang dirancang untuk mengevaluasi strategi pengobatan pada pasien yang umumnya node-positive. Uji klinik ini membandingkan regimen pengobatan klinis standar dengan keputusan chemotherapy yang dipersonalisasi menggunakan multi-parameter Prosigna (PAM50) gene expression test.
Uji klinik OPTIMA dirancang sebagai uji klinik acak fase III (phase III randomized non-inferiority trial). Peserta yang memenuhi syarat meliputi pria dan wanita berusia 40 tahun ke atas dengan ER-positive, HER2-negative EBC yang direkomendasikan untuk kemoterapi. Pasien harus memiliki 0 hingga 9 involved axillary nodes, atau ukuran tumor yang lebih besar dari 30 mm secara ketat jika mereka node-negative. Peserta diacak ke dalam dua lengan: kemoterapi standar yang diikuti oleh terapi endokrin (endocrine therapy/CET) atau keputusan test-directed chemotherapy menggunakan tes Prosigna. Pada lengan test-directed, pasien dengan tumor yang memiliki skor Prosigna Risk of Recurrence (ROR) lebih dari 60 ditugaskan untuk menerima CET. Sebaliknya, pasien dengan low ROR score (≤60) mengabaikan kemoterapi dengan aman dan hanya menerima terapi endokrin. Untuk wanita premenopause yang ditugaskan ke ET, pengobatan meliputi ovarian function suppression (OFS), dengan catatan mereka tidak mengalami chemotherapy-induced ovarian insufficiency. Untuk mencegah bias, pasien yang menerima CET di-blind (disamarkan) terhadap randomisasi mereka, dan ROR scores yang pasti tidak diungkapkan.
Studi ini bertujuan untuk mendemonstrasikan non-inferiority dari tingkat 5-year invasive breast cancer-free survival (IBCFS) di lengan test-directed, menggunakan margin 3% dalam per-protocol (PP) population dan 5% 1-sided alpha. Control arm juga diuji terhadap low ROR score group dengan margin non-inferiority 3,5%. Jumlah pasien antara 16 Januari 2017 dan 12 Desember 2025, total 4.429 pasien diacak (randomized) ke dalam uji klinik. Ini mencakup 2.215 pasien pada lengan kontrol dan 2.214 pasien pada lengan test-directed. Per-protocol (PP) population terdiri dari 2.061 pasien (93%) pada lengan kontrol dan 2.097 pasien (95%) pada lengan test-directed. Karakteristik pasien seimbang di seluruh kelompok: 62% postmenopausal, 37% premenopausal, dan 0,8% pria. Terkait karakteristik tumor, 73% memiliki pN1/pN1sn nodal status, 19% memiliki pN2, dan 8% memiliki pN0/pN1mi. Selain itu, 68% dari pasien memiliki low ROR score tumors.
Hasilnya, setelah median follow-up selama 3,9 tahun (interquartile range 2,0-5,9), terdapat 280 IBCFS events yang tercatat (141 pada lengan kontrol; 139 pada lengan test-directed). Mayoritas dari kejadian ini (66%) adalah distant recurrences.
Statistik kelangsungan hidup (survival statistics) secara detail adalah:
- Overall Trial Arms: Tingkat 5-year IBCFS adalah 91,5% [95% CI 89,7-92,9%] pada lengan kontrol dan 90,4% [95% CI 88,6-92,0%] pada lengan test-directed. Dengan Hazard Ratio (HR) sebesar 0,99 [90% CI 0,81-1,20] dan nilai p non-inferiority 0,013, margin non-inferiority yang telah ditentukan sebelumnya berhasil dipenuhi.
- Low ROR Score Population: Pada pasien dengan low ROR scores, tingkat 5-year IBCFS adalah 94,9% [95% CI 92,9-96,4%] pada lengan kontrol dan 93,7% [95% CI 91,8-95.2%] pada lengan test-directed. HR adalah 1,06 [90% CI 0,78-1,46] dengan nilai p non-inferiority 0,0051, yang semakin mengonfirmasi non-inferiority.
Hal penting lainnya, tidak ada heterogenitas hasil yang signifikan diamati di antara berbagai subgrup, termasuk analisis berdasarkan menopausal dan nodal status.
Kesimpulan:
Uji klinik OPTIMA menegaskan bahwa baik wanita maupun pria yang didiagnosis dengan ER-positive, HER2-negative EBC yang memiliki ROR score ≤60 dapat menghindari kemoterapi dengan aman. Studi ini dengan sukses memperkuat utilitas klinis dari test-directed chemotherapy, secara eksplisit membuktikan keamanan dan kemanjurannya bagi premenopausal women yang dirawat dengan OFS dan bagi pasien dengan axillary nodal involvement yang ekstensif.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Freepik)
Referensi:
- Stein RC, Makris A, Macpherson IR, Hughes-Davies L, Marshall A, Pinder SE, et al. First results from the OPTIMA phase III randomized non-inferiority trial of test-directed chemotherapy in patients with high clinical risk ER-positive HER2-negative early breast cancer [Internet]. American Society of Clinical Oncology; [cited 2026 Jun 5]. Available from: https://www.asco.org/abstracts-presentations/258169
- Kalinsky K, Barlow WE, Gralow JR, Meric-Bernstam F, Albain KS, Hayes DF, et al. 21-Gene Assay to Inform Chemotherapy Benefit in Node-Positive Breast Cancer. N Engl J Med. 2021;385(25):2336-47. doi:10.1056/NEJMoa2108873
- Cardoso F, van't Veer LJ, Bogaerts J, Slaets L, Viale G, Delaloge S, et al. 70-Gene Signature as an Aid to Treatment Decisions in Early-Stage Breast Cancer. N Engl J Med. 2016;375(8):717-29. doi:10.1056/NEJMoa1602253