Platysma prominence merupakan salah satu tanda penuaan leher yang sering dikeluhkan pasien estetika, ditandai dengan berkurangnya ketegasan garis rahang, munculnya jowling, dan pita vertikal leher akibat kontraksi kronis otot platysma serta perubahan jaringan terkait usia. Suatu penelitian dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas onabotulinumtoxinA dalam meningkatkan platysma prominence pada dewasa.
Selain wajah, keluhan umum pada pasien yang datang untuk evaluasi estetika adalah tampilan penuaan pada area leher. Otot platysma berperan penting dengan melapisi secara halus dari regio toraks atas hingga wajah bagian bawah dan area di atas mandibula. Seiring bertambahnya usia, perubahan pada otot platysma dapat menyebabkan garis rahang menjadi kurang tegas, meningkatkan tampilan jowling serta pita vertikal pada leher, suatu kondisi yang dikenal sebagai platysma prominence (PP). PP terutama disebabkan oleh kontraksi otot platysma yang berlangsung kronis, mengakibatkan pemendekan serabut otot dan tampilan yang semakin menonjol, terutama saat aktivitas seperti tersenyum atau berbicara. Perubahan terkait usia lainnya, seperti kelonggaran kulit servikal, diastasis otot platysma, atau berkurangnya lemak leher, dapat memperberat kondisi ini. Selain memengaruhi kontur wajah dan leher, PP juga dapat berdampak negatif terhadap psikologis dan kepercayaan diri, serta mengganggu ekspresi wajah. OnabotulinumtoxinA telah terbukti efektif dan aman dalam memperbaiki PP derajat sedang hingga berat pada berbagai dosis, dengan hasil signifikan secara klinis dibandingkan plasebo dalam uji klinis fase 2 dan fase 3 yang melibatkan peserta dari beberapa negara.
Suatu penelitian dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas onabotulinumtoxinA dalam meningkatkan platysma prominence pada dewasa. Penelitian ini merupakan studi fase 3 selama 4 bulan dengan desain multisenter, acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dilaksanakan pada Agustus 2021 hingga Juni 2023. Peserta yang memenuhi kriteria diacak dengan rasio 1:1 untuk menerima onabotulinumtoxinA (onabotA) atau plasebo, dengan stratifikasi berdasarkan lokasi penelitian dan derajat keparahan awal. Obat studi disuntikkan ke otot platysma pada hari ke-1. Peserta memiliki platysma prominence (PP) derajat sedang hingga berat. Pemberian onabotA atau plasebo dilakukan melalui injeksi intramuskular superfisial dengan teknik khusus sesuai anatomi otot platysma, menggunakan skema dosis individual berdasarkan keparahan kondisi. Total dosis onabotA yang diberikan berkisar antara 26−36 U untuk area rahang dan leher. Analisis efikasi dilakukan pada populasi intent-to-treat (ITT) dan modified ITT (mITT), dengan parameter akhir primer berupa perbaikan derajat PP yang bermakna secara klinis pada hari ke-14 berdasarkan penilaian peneliti dan peserta menggunakan skala tervalidasi.
Hasilnya:
Karakteristik Peserta Studi
- Sebanyak 186 peserta yang menerima onabotulinumtoxinA (onabotA) dan 195 peserta yang menerima placebo. Karakteristik demografi dan tingkat keparahan platysma prominence (PP) awal sebanding antara kelompok onabotA dan plasebo.
Efikasi: Perbaikan Derajat Platysma Prominence
- Pada hari ke-14, perbaikan ≥2 derajat dinilai oleh peneliti terjadi pada 41,0% peserta kelompok onabotA dibandingkan 2,2% pada plasebo (P < 0,0001).
- Penilaian mandiri peserta menunjukkan hasil serupa, dengan 40,8% kelompok onabotA mencapai perbaikan ≥2 derajat dibandingkan 3,9% pada plasebo (P < 0,0001).
- Sebanyak 48,1% peserta kelompok onabotA mencapai derajat minimal atau ringan pada hari ke-14, jauh lebih tinggi dibandingkan plasebo (5,2%).
- Perbaikan ≥1 derajat juga secara konsisten lebih tinggi pada kelompok onabotA berdasarkan penilaian peneliti maupun peserta.
Kepuasan terhadap Efek Terapi
- Pada hari ke-14, 61,2% peserta kelompok onabotA melaporkan puas atau sangat puas terhadap hasil terapi, dibandingkan 11,8% pada kelompok plasebo (P < 0,0001).
Dampak Psikososial
- Skor total Appearance of Neck and Lower Face Questionnaire (ANLFQ): Impacts menunjukkan perbaikan yang secara konsisten dan bermakna lebih besar pada kelompok onabotA dibandingkan plasebo hingga hari ke-90, mencerminkan dampak psikososial yang lebih positif.
Keamanan
- Kejadian tidak diinginkan pascaterapi dilaporkan pada 16,3% peserta kelompok onabotA dan 19,9% kelompok plasebo.
- Kejadian yang berkaitan dengan terapi bersifat ringan, lokal, sementara, dan sembuh spontan, terutama berupa nyeri, memar, atau perdarahan ringan di lokasi injeksi.
Kesimpulan:
Platysma prominence merupakan tanda penuaan leher yang dapat memengaruhi kontur wajah dan psikososial pasien. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa onabotulinumtoxinA melalui injeksi intramuskular superfisial pada otot platysma secara klinis signifikan efektif dalam memperbaiki platysma prominence derajat sedang hingga berat, dengan perbaikan klinis yang signifikan sejak hari ke-14, tingkat kepuasan tinggi, serta profil keamanan yang baik dibandingkan plasebo.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: LightFieldStudios-Envato element)
Referensi:
1. Pérez P, Hohman MH. Neck Rejuvenation. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 [cited 2026 Jan 7]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562229/
2. Shridharani SM, Ogilvie P, Couvillion M, Pavicic T, Lain E, Jierjian E, et al. Improving Neck and Jawline Aesthetics With OnabotulinumtoxinA by Minimizing Platysma Muscle Contraction Effects: Efficacy and Safety Results in a Phase 3 Randomized, Placebo-Controlled Study. Aesthet Surg J. 2025 Feb 1;45(2):194–201.