Terapi antiplatelet jangka panjang direkomendasikan untuk pencegahan sekunder pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK). Bukti terbaru dari meta-analisis PANTHER-2 menunjukkan bahwa monoterapi clopidogrel menurunkan kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular mayor yang merugikan (major adverse cardiovascular and cerebrovascular events/MACCE) dibandingkan dengan monoterapi aspirin, tanpa meningkatkan risiko perdarahan. Namun, bukti spesifik pada pasien dengan sindrom koroner akut (acute coronary syndrome/ACS) setelah penggunaan drug-eluting stent (DES) masih terbatas. Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini mengevaluasi efektivitas serta keamanan monoterapi clopidogrel dibandingkan aspirin setelah terapi antiplatelet ganda (dual antiplatelet therapy/DAPT) pada pasien ACS pascaimplantasi DES. Tiga studi yang melibatkan 7.081 pasien diikutsertakan, terdiri atas satu uji acak terkontrol dan dua studi kohort retrospektif observasional. Monoterapi clopidogrel secara signifikan menurunkan risiko (major adverse cardiovascular events (MACE) sebesar 28% dibandingkan aspirin (HR 0,72; 95% CI 0,54–0,98), tanpa perbedaan bermakna pada risiko perdarahan yang relevan secara klinis (HR 0,92; 95% CI: 0,68–1,24). Temuan ini menunjukkan bahwa clopidogrel dapat memberikan perlindungan kardiovaskular yang lebih baik dengan risiko perdarahan yang sebanding dibandingkan aspirin pada pasien ACS pascaimplantasi DES.
Terapi antiplatelet jangka panjang direkomendasikan untuk pencegahan sekunder pada perempuan maupun laki-laki dengan penyakit jantung koroner (PJK) (coronary artery disease/CAD). Dalam meta-analisis data individual pasien PANTHER-2 (P2Y12 Inhibitor or Aspirin Monotherapy-2) yang melibatkan 28.982 pasien PJK dari tujuh uji klinik teracak, monoterapi clopidogrel secara signifikan menurunkan risiko major adverse cardiovascular and cerebrovascular events (MACCE), terutama melalui penurunan infark miokard dan stroke, dibandingkan dengan monoterapi aspirin, tanpa meningkatkan perdarahan mayor maupun perdarahan secara keseluruhan.
Meskipun telah terdapat beberapa meta-analisis terbaru yang membandingkan penghambat P2Y12 dan aspirin sebagai monoterapi jangka panjang pada pasien kardiovaskular, bukti spesifik pada populasi sindrom koroner akut (acute coronary syndrome/ACS) dengan penggunaan drug-eluting stent (DES) masih terbatas. Oleh karena itu, tujuan tinjauan pustaka sistematis dan meta-analisis ini adalah mengevaluasi efektivitas dan keamanan komparatif monoterapi clopidogrel dibandingkan aspirin setelah terapi antiplatelet ganda (dual antiplatelet therapy/DAPT) yang adekuat pada pasien ACS pascaimplantasi DES.
Uji acak terkontrol (randomized controlled trials/RCTs) dan studi observasional yang mengevaluasi efektivitas atau keamanan monoterapi clopidogrel dibandingkan aspirin setelah berbagai durasi DAPT pada pasien dewasa dengan ACS, termasuk infark miokard elevasi segmen ST (ST-elevation myocardial infarction/STEMI), non-STEMI (NSTEMI), atau angina tidak stabil, pasca-implantasi DES diikutsertakan dalam meta-analisis ini. Penelusuran dilakukan pada MEDLINE, Embase, dan CENTRAL (Cochrane Central Register of Controlled Trials) melalui OvidSP untuk memperoleh publikasi hingga 1 September 2023.
Luaran efektivitas yang dinilai meliputi MACE beserta komponennya, yaitu infark miokard, stroke iskemik, atau mortalitas, trombosis stent, revaskularisasi koroner, dan rawat inap akibat angina tidak stabil. Luaran keamanan meliputi kejadian perdarahan (total, mayor, minor, atau fatal), dan kejadian yang tidak diinginkan (KTD), KTD terkait pengobatan, KTD serius, penghentian studi, serta penghentian atau pergantian terapi obat setelah satu tahun DAPT.
Sebanyak tiga studi diikutsertakan dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis ini. Dari ketiga studi primer tersebut, satu merupakan RCT dan dua lainnya adalah studi kohort retrospektif observasional. Jumlah pasien ACS masing-masing adalah 3.921 pada uji HOST-EXAM, serta 1.341 dan 1.819 pada dua studi observasional lainnya. Durasi monoterapi clopidogrel atau aspirin berkisar antara 12 hingga 36 bulan. Pada dua studi yang melaporkan regimen terapi, dosis pemeliharaan clopidogrel setelah DAPT diberikan sebesar 75 mg sekali sehari, sedangkan monoterapi aspirin diberikan sebesar 100 mg sekali sehari.
Dalam meta-analisis, monoterapi clopidogrel dibandingkan aspirin menghasilkan penurunan risiko MACE sebesar 28% (hazard ratio [HR] 0,72; 95% CI: 0,54–0,98; Figur 4A). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara clopidogrel dan aspirin terhadap risiko perdarahan yang relevan secara klinis (HR 0,92; 95% CI: 0,68–1,24; Figur 4B).

Simpulan
Meta-analisis ini menunjukkan bahwa monoterapi clopidogrel dibandingkan aspirin dapat menurunkan risiko kejadian kardiovaskular dengan risiko perdarahan mayor yang sebanding pada pasien sindrom koroner akut pascaimplantasi drug-eluting stent.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Magnific - Lifestylememory)
Referensi:
- Gragnano F, Giacoppo D, Choi KH, Kimura T, Watanabe H, Kim H-S, et al. Clopidogrel versus aspirin monotherapy in coronary artery disease: A sex-stratified individual patient data meta-analysis of randomized trials. Circulation. 2026; 153: 7.
- Sibbing D, Nicolas J, Spirito A, Vogel B, Cao D, Stipek W, et al. Clopidogrel versus aspirin as monotherapy following dual antiplatelet therapy in patients with acute coronary syndrome receiving a drug-eluting stent: A systematic literature review and meta-analysis. Clin Cardiol. 2024; 47: e24326.