Bevacizumab merupakan antibodi monoklonal yang menghambat vascular endothelial growth factor (VEGF), protein yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru pada tumor. Bevacizumab ini menjadi terapi target pertama yang terbukti memperpanjang kelangsungan hidup pasien dengan kanker serviks metastatik, persisten, atau rekuren. Dalam studi fase III GOG 240 yang melibatkan 452 pasien, penambahan bevacizumab pada kemoterapi meningkatkan median overall survival (OS). Manfaat yang lebih besar terlihat pada pasien tanpa riwayat radioterapi pelvis. Hasil tersebut menjadi dasar penggunaan bevacizumab bersama kemoterapi platinum-paclitaxel sebagai regimen standar lini pertama.
Bevacizumab dalam Kombinasi dengan Imunoterapi
Selain merangsang pembentukan pembuluh darah tumor, VEGF juga dapat menekan respons imun di sekitar tumor, antara lain dengan menghambat masuknya sel T. Dengan menghambat pembentukan pembuluh darah tumor, bevacizumab berpotensi menciptakan kondisi yang lebih mendukung kerja obat imunoterapi immune checkpoint inhibitor.
Hal inilah yang mendasari studi BEATcc, sebuah uji klinik fase III terbuka (open-label), dengan pemberian bevacizumab pada kedua kelompok. Studi ini melibatkan 410 pasien dengan kanker serviks metastatik, persisten, atau rekuren yang belum mendapat terapi untuk penyakit lanjutnya, tanpa memandang status PD-L1. Seluruh pasien menerima cisplatin atau carboplatin, paclitaxel, serta bevacizumab 15 mg/kg setiap tiga minggu. Pasien kemudian diacak dengan rasio 1:1 untuk mendapat tambahan atezolizumab 1.200 mg setiap tiga minggu atau tanpa terapi tambahan. Dua luaran primer yang dinilai adalah progression-free survival (PFS) dan OS.
Efikasi
Pada analisis utama yang diterbitkan dalam The Lancet, penambahan atezolizumab pada bevacizumab dan kemoterapi memperpanjang median PFS dari 10,4 menjadi 13,7 bulan (Hazard Ratio 0,62; p<0,0001). Angka respons objektif juga meningkat dari 72% menjadi 84%.
Dalam analisis akhir, dengan median follow-up 57,2 bulan, median OS mencapai 31,9 bulan pada kelompok yang menerima atezolizumab bersama bevacizumab dan kemoterapi, dibandingkan dengan 22,7 bulan pada kelompok bevacizumab dan kemoterapi saja. Dengan demikian, median OS lebih panjang 9,2 bulan, disertai penurunan risiko kematian sebesar 31% (Hazard Ratio 0,69; 95% CI: 0,54–0,88). Persentase OS empat tahun masing-masing mencapai 40% dan 26%.
Manfaat ini terlihat pada pasien dengan tumor PD-L1-positif (median OS 32,7 vs 26,5 bulan; Hazard Ratio 0,71) maupun PD-L1-negatif (38,6 vs 19,2 bulan; Hazard Ratio 0,53). Hasil pada kelompok PD-L1-negatif sejalan dengan dugaan bahwa penghambatan VEGF dapat meningkatkan aktivitas imunoterapi. Namun, temuan subkelompok ini masih bersifat eksploratif. Sementara itu, kelompok yang hanya menerima bevacizumab dan kemoterapi juga menunjukkan median OS 22,7 bulan, lebih panjang dibandingkan dengan 16,8 bulan pada GOG 240. Perbandingan antarstudi tersebut tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Keamanan dan Tolerabilitas
Secara umum, profil keamanan regimen bevacizumab dan kemoterapi baik walaupun dengan penambahan atezolizumab. Kejadian tidak diinginkan derajat ≥3 dialami oleh 79% pasien pada kelompok atezolizumab dan 75% pada kelompok kontrol. Hipertensi derajat ≥3, yang merupakan salah satu efek samping khas bevacizumab, juga terjadi dengan angka yang serupa, yaitu 18% dan 16%. Penghentian terapi akibat kejadian tidak diinginkan tercatat pada 15% dan 16% pasien. Tidak ditemukan masalah keamanan baru pada analisis akhir.
Meski demikian, risiko terbentuknya fistula tetap perlu diperhatikan. Dalam GOG 240, fistula terjadi pada 15% pasien yang menerima bevacizumab, dibandingkan 1% pada pasien yang hanya menerima kemoterapi. Seluruh kasus terjadi pada pasien dengan riwayat radioterapi pelvis. Tidak ada kasus yang menyebabkan kondisi darurat bedah, sepsis, maupun kematian. Oleh karena itu, pemilihan dan pemantauan pasien secara cermat tetap menjadi bagian penting dalam penggunaan bevacizumab.
Kesimpulan:
Hasil akhir BEATcc menegaskan manfaat jangka panjang regimen lini pertama berbasis bevacizumab pada kanker serviks lanjut. Penambahan atezolizumab pada bevacizumab dan kemoterapi menghasilkan median OS 31,9 bulan dan persentase OS empat tahun sebesar 40%, dengan efek samping yang secara umum masih dapat ditangani. Temuan ini memperkuat peran bevacizumab sebagai komponen penting dalam terapi lini pertama, termasuk saat dikombinasikan dengan imunoterapi.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: halfpoint)
Referensi:
1. Oaknin A, Leary A, Martinez-Garcia J, Villacampa G, Takekuma M, De Giorgi U, et al. LBA38 Final overall survival (OS) results from BEATcc (ENGOT-Cx10/GEICO 68-C/JGOG1084/GOG-3030), a randomised phase 3 trial of first-line atezolizumab, chemotherapy and bevacizumab for metastatic, persistent or recurrent cervical cancer [abstract]. Presented at: ESMO Congress 2026; 2026 Oct 23-27; Madrid.
2. Oaknin A, Gladieff L, Martínez-García J, Villacampa G, Takekuma M, De Giorgi U, et al. Atezolizumab plus bevacizumab and chemotherapy for metastatic, persistent, or recurrent cervical cancer (BEATcc): a randomised, open-label, phase 3 trial. Lancet. 2024;403(10421):31-43.
3. Tewari KS, Sill MW, Long HJ 3rd, Penson RT, Huang H, Ramondetta LM, et al. Improved survival with bevacizumab in advanced cervical cancer. N Engl J Med. 2014;370(8):734-43.
4. Tewari KS, Sill MW, Penson RT, Huang H, Ramondetta LM, Landrum LM, et al. Bevacizumab for advanced cervical cancer: final overall survival and adverse event analysis of a randomised, controlled, open-label, phase 3 trial (Gynecologic Oncology Group 240). Lancet. 2017;390(10103):1654-63.