Detail Article

Ketika Performance Status Pasien Menurun, ApakahTerapi Fulvestrant Ditunda, dan Kapan Pemberiannya Dilanjutkan?

dr. Johan Indra Lukito
Okt 23
Share this article
6c5282cb92cdad1334a9ced762fb617e.jpg
Updated 29/Okt/2026 .

Evaluasi performance status skala Eastern Cooperative Oncology Group dan tolerabilitas klinis sangat penting dalam mengarahkan keputusan terapi berbasis endokrin pada hormone receptor-positive advanced breast cancer. Meskipun monoterapi fulvestrant memiliki profil keamanan sistemik yang sangat baik, sehingga jarang memerlukan penghentian pengobatan, penundaan terapi sementara dapat terjadi akibat penyakit penyerta akut yang berat, komplikasi lokal pada area injeksi, atau toksisitas akibat penggunaan terapi kombinasi bersama agen target seperti cyclin-dependent kinase 4/6 inhibitors atau kinase inhibitors. Penundaan sementara pengobatan memungkinkan dokter untuk melakukan evaluasi diagnostik yang diperlukan, mengelola etiologi yang mendasari, serta memantau pemulihan laboratorium, termasuk transaminase hati dan parameter hematologi. Pemberian kembali fulvestrant diindikasikan setelah toksisitas akut teratasi dan stabilitas klinis tercapai kembali, selama tidak terjadi disease progression. 

Dokter spesialis onkologi sering kali menghadapi pertanyaan mengenai tata laksana fulvestrant yang tepat ketika pasien menunjukkan penurunan kondisi umum atau penurunan performance status skala Eastern Cooperative Oncology Group. Dalam praktik klinis, mengevaluasi apakah buruknya performance status disebabkan oleh toksisitas sementara terkait pengobatan atau akibat disease progression yang aktif sangat penting untuk menentukan apakah terapi endokrin harus ditunda sementara atau dihentikan secara permanen.


Dalam uji klinik yang mengevaluasi fulvestrant, baik sebagai monoterapi maupun dalam kombinasi dengan terapi target, kriteria pemilihan pasien secara ketat mensyaratkan performance status skala Eastern Cooperative Oncology Group 0 hingga 1 untuk memastikan ketahanan fisiologis awal. Ketika seorang pasien mengalami penurunan performance status, dokter harus membedakan penyebabnya antara penyakit interkurren non-kanker atau toksisitas obat yang berat dengan disease progression viseral yang cepat. Seperti yang disorot oleh Sledge, et al., pada uji klinik MONARCH 2 dan Cristofanilli, et al., pada uji klinik PALOMA-3, monoterapi fulvestrant memiliki profil adverse event yang sangat toleran, yang terutama dicirikan oleh hot flashes ringan, fatigue, dan artralgia ringan. Alhasil, fulvestrant saja jarang menyebabkan penurunan performance status sistemik secara langsung atau toksisitas organ yang memerlukan penundaan terapi. Namun, seperti yang didokumentasikan oleh Elder, et al., dan Yuan, et al., ketika fulvestrant diberikan bersamaan dengan terapi target atau ketika pasien mengalami toksisitas interkuren akut seperti drug-induced hepatotoxicity atau neutropenia berat, maka penundaan sementara terapi secara klinis diperlukan untuk mencegah gangguan fungsi hati atau hematologi lebih lanjut.

 

Setelah keputusan untuk menunda terapi diambil, durasi penundaan ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan toksisitas dan perbaikan performance status. Seperti yang ditetapkan oleh Elder, et al., pada kasus peningkatan enzim hati akibat obat atau toksisitas sistemik, pemberian fulvestrant dan terapi target pendamping dihentikan sementara sambil melakukan evaluasi diagnostik untuk menyingkirkan hepatitis virus atau disease progression. Setelah tes fungsi hati kembali mendekati nilai dasar dan gejala klinis akut mereda, monoterapi fulvestrant dapat dilanjutkan kembali secara aman. Secara farmakologis, karena fulvestrant diformulasikan dalam depo castor oil dan memiliki waktu paruh eliminasi terminal yang panjang sekitar 40 hari, penundaan sementara selama beberapa minggu tidak menyebabkan kehilangan saturasi jaringan atau penurunan downregulation reseptor secara mendadak. Seperti yang ditekankan oleh Robertson, et al., dan Yuan, et al., setelah pemulihan klinis tercapai, fulvestrant harus dilanjutkan kembali sebagai dosis intramuskular standar 500 mg. Jadwal pemberian dosis berikutnya kemudian harus dihitung ulang untuk mempertahankan interval 28 hari di antara injeksi pemeliharaan, guna memastikan blokade terapeutik yang berkelanjutan tanpa membebani pasien dengan re-loading yang tidak perlu. Penghentian permanen dicadangkan khusus untuk kasus disease progression yang terdokumentasi atau toksisitas persisten yang tidak dapat dikelola.


Kesimpulan:

Penundaan terapi fulvestrant diindikasikan ketika pasien mengalami penurunan sementara pada performance status akibat penyakit penyerta akut, komplikasi lokal, atau toksisitas organ akibat terapi kombinasi. Pengobatan harus dilanjutkan kembali secara aman setelah pemulihan klinis terkonfirmasi, parameter laboratorium kembali normal, dan re-staging memastikan tidak adanya disease progression. Fulvestrant menawarkan pilihan terapi yang fleksibel, toleran secara farmakologis, dan dapat dikelola, yang mendukung keselamatan pasien tanpa mengorbankan kontrol penyakit jangka panjang.

 

 

Gambar: Ilustrasi (Sumber: jcomp-Freepik)

Referensi:

1. Robertson JFR, Bondarenko IM, Trishkina E, et al. Fulvestrant 500 mg versus anastrozole 1 mg for hormone receptor-positive advanced breast cancer (FALCON): an international, randomised, double-blind, phase 3 trial. Lancet. 2016;388(10063):2997-3005.

2. Sledge GW Jr, Toi M, Neven P, et al. The effect of abemaciclib plus fulvestrant on overall survival in hormone receptor-positive, ERBB2-negative breast cancer that progressed on endocrine therapy-MONARCH 2: a randomized clinical trial. JAMA Oncol. 2020;6(1):116-124.

3. Cristofanilli M, Turner NC, Bondarenko I, et al. Fulvestrant plus palbociclib versus fulvestrant plus placebo for treatment of hormone-receptor-positive, HER2-negative metastatic breast cancer that progressed on previous endocrine therapy (PALOMA-3): final analysis of the multicentre, double-blind, phase 3 randomised controlled trial. Lancet Oncol. 2016;17(4):425-439.

4. Elder A, Ohana M, Younas M, et al. Fulvestrant- and palbociclib-induced hepatotoxicity in a patient with breast cancer: a case report. J Hematol Oncol Pharm. 2020;10(4):235-240.

5. Yuan Z, Wang X, Zhang Q, et al. Chinese expert consensus on endocrine therapy for breast cancer (2026 edition). Chin J Cancer Res. 2026;38(1):101-115.

6. Nathan MR, Schmid P. Treating ER-positive breast cancer: a review of the current FDA-approved SERMs and SERDs and their mechanisms of action. Front Oncol. 2017;7:207.

Share this article
Related Articles
Related Products
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
822b20921961ae70f628331602b6c75f.png
5c49a4d3e0a83aba40b455cb33b06b49.jpg
33c6da3c20944fbf48d867f63909f4a5.jpg
1046037dbefa23f6968f2afa2bc93bce.jpg
8cba86d6aea6dace6eda16b3d224c743.jpg
3af9ead40a3826448c904b6ad572e52e.jpg
49e6a1c2c3f4074c5d93c447a0421734.jpeg
0d5d162fa2b93e7bdc58203d9383226f.jpg
4431c44b99239f5ffe960a390cc0d22c.jpg