DED (dry eye disease) adalah salah satu gangguan kesehatan mata yang paling umum ditemukan, di mana di Asia sendiri insiden DED disertai Meibomian gland dysfunction (MGD) pada populasi usia > 40 tahun mencapai 38%–68%. DED merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh produksi air mata yang tidak adekuat dan/atau evaporasi air mata yang berlebihan. Pada praktik klinik, tidak jarang DED diakibatkan oleh kedua mekanisme tersebut. Oleh karena itu, penanganan DED harus dapat memperbaiki produksi air mata yang kurang dan evaporasi air mata yang berlebihan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa inflamasi juga berperan penting pada patofisiologi DED. Permukaan mata yang kering dapat mencetuskan produksi beragam sel inflamatorik oleh sel epitel pada permukaan mata. Inflamasi yang terjadi ini akan menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut sehingga memperburuk penurunan produksi air mata. Oleh karena itu, menurunkan respons inflamasi ini diharapkan dapat memperbaiki DED. Terapi antiinflamasi menggunakan tetes mata steroid telah dilaporkan efektif dalam memperbaiki DED. Namun, seringkali terapi steroid tinggal belum cukup untuk meredakan DED.
Terapi kombinasi untuk DED menggunakan tetes mata steroid dan modalitas terapi lain sering dilakukan. Meibomian gland expression (MGX) adalah suatu prosedur terapi sederhana untuk mengatasi MGD. MGX dilakukan dengan memberikan tekanan secara manual pada kelopak mata dengan suatu benda yang kaku, untuk membantu mengeluarkan sekresi kelenjar Meibom yang tersumbat dan mengembalikan aliran kelenjar Meibom yang normal.
Penelitian oleh Guo, et al., mengevaluasi efikasi kombinasi terapi antiinflamasi menggunakan fluorometholone 0,1% tetes mata dengan Meibomian gland expression (MGX) pada pasien DED dengan MGD, yang sebagian di antaranya juga mengidap penyakit imun sistemik. Penelitian ini melibatkan 48 pasien (96 mata). Seluruh pasien diberikan fluorometholone 0,1% tetes mata 4 kali sehari selama 2 minggu. Seluruh pasien juga menjalani MGX, yaitu dengan pemijatan pada kelopak mata superior dan interior menggunakan paddle dari bahan stainless steel. Prosedur ini dilakukan oleh perawat berpengalaman, selama 1 kali setiap 2 minggu, dan pasien diminta melakukan kompres hangat dan masase kelopak mata setiap malam secara mandiri. Luaran yang dinilai adalah perbaikan DED yang dinilai melalui corneal fluorescein staining, Schirmer I test, tear film assessment (tear break up time, tear meniscus height), Meibomian gland secretion, dan ocular surface disease index (OSDI).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setelah 1 bulan terapi terdapat perbaikan pada tanda DED yang meliputi tear break up time (p < 0,05), tear meniscus height (p = 0,023), dan fluorescein staining (p < 0,001). Selain itu, sekresi kelenjar Meibom juga membaik, yang dinilai dari perbaikan Meibum Score. Meibomian gland loss juga secara signifikan berkurang, dilihat dari perbaikan skor Meiboscore.
Pada pasien dengan penyakit imun sistemik, perbaikan tanda DED juga terlihat dari perbaikan signifikan dari tear break up time, skor fluorescein stain dan meibum score, mulai dari 2 minggu pascaterapi. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi kombinasi fluorometholone 0,1% tetes mata dengan MGX dapat meredakan gejala DED bahkan pada pasien dengan penyakit imun sistemik sebagai penyakit yang mendasari DED.
Kesimpulan:
Kombinasi terapi antiinflamasi menggunakan fluorometholone 0,1% dan Meibomiang gland expression (MGX) secara signifikan meredakan keparahan gejala dan tanda DED, bahkan pada pasien dengan penyakit imun sistemik sebagai penyakit yang mendasari DED.
Gambar: Ilustrasi
Referensi:
1. Guo X, Li A, Fan Y, Yu Y, Guo W, Jie Y. Combined use of 0.1% fluorometholone and Meibomian gland expression improves symptoms of moderate and severe dry eye disease, even in patients with systemic immune disease. Biotechnology & Biotechnological Equipment. 2019;33(1):1237-43.
2. Anh Le NV, Chotikkakamthorn P, Kasetsuwan N, Luu H, Reinprayoon U. Effect of meibomian gland expression on meibomian gland regeneration and function: a randomized controlled trial. Clin Ophthalmol. 2026;20:607078