Detail Article

Cara Mengurangi Edema Periokular, Ini Tinjauan Literaturnya

dr. Della Sulamita Mahendro, M.Kes (AAM), M.M,
Mei 11
Share this article
7c84fd3bb2da237c78f7d12394f25f0e.jpg
Updated 11/Mei/2026 .

Edema periokular merupakan kondisi klinis yang sering dijumpai, terutama pada kasus trauma dan pasca-tindakan, dengan etiologi mulai dari cedera tumpul hingga kondisi sistemik seperti gangguan imunologi, endokrin, infeksi, neurologis, dan dermatologis. Area periokular yang memiliki kulit sangat tipis menjadikannya rentan terhadap inflamasi dan perubahan morfologi, di mana edema dapat menjadi manifestasi awal bahkan satu-satunya dari penyakit sistemik tertentu. Mengingat dampak klinis dan estetika yang signifikan, penanganan edema secara cepat dan efektif menjadi penting untuk mencegah progresivitas dan mempercepat pemulihan, maka dilakukan tinjauan literatur untuk mengetahui manajemen edema periokular perioperatif. 


Patogenesis edema periokular perioperatif berkaitan dengan ketidakseimbangan distribusi cairan antara kompartemen intravaskular dan interstisial, di mana edema terjadi akibat akumulasi cairan berlebih di ruang interstisial. Secara fisiologis, tekanan hidrostatik sedikit lebih tinggi dibanding tekanan onkotik, sehingga terjadi perpindahan cairan ke interstitium yang kemudian dikembalikan melalui sistem limfatik. Namun, pada kondisi pasca tindakan, respons inflamasi memicu pelepasan mediator seperti histamin, prostaglandin, dan sitokin (termasuk TNF dan interleukin), yang menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas vaskular. Hal ini meningkatkan tekanan onkotik interstisial dan menarik lebih banyak cairan ke jaringan, sehingga terbentuk edema. Selain itu, infiltrasi sel imun dan gangguan drainase limfatik dapat memperburuk dan memperpanjang kondisi edema.

 

Secara klinis, edema biasanya mencapai puncak dalam 48–72 jam, namun edema persisten dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut seperti keterlibatan konjungtiva, kemosis, hingga gangguan kornea dan penurunan fungsi visual. Oleh karena itu, resolusi edema secara cepat tanpa merusak jaringan periokular yang sensitif menjadi penting untuk mendukung penyembuhan optimal. Metode pencarian literatur dilakukan dengan rentang tahun 2000 hingga 2023. Pencarian dilakukan melalui basis data PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan berbagai kata kunci terkait seperti edema pasca-operasi dan edema periokular. Seleksi literatur didasarkan pada relevansi terhadap tujuan penelitian, dengan fokus utama pada studi yang membahas manajemen edema periokular perioperatif, serta artikel yang telah melalui proses peer-review.

 

Hasil penelusuran literatur antara lain:

1. Corticosteroid

a. Corticosteroid topikal

Corticosteroid topikal bekerja melalui mekanisme anti-inflamasi dan imunosupresif, yaitu dengan menghambat sintesis mediator inflamasi dan meningkatkan produksi protein anti-inflamasi. Betamethasone valerate merupakan corticosteroid potensi sedang yang efektif dalam menangani edema periokular, terutama karena sifatnya yang relatif lebih aman pada kulit yang tipis dan sensitif. Sementara itu, triamcinolone memiliki efektivitas yang sebanding, namun dengan potensi yang lebih tinggi sehingga berisiko lebih besar menimbulkan efek samping pada area periokular. Penggunaan jangka panjang corticosteroid topikal dapat menyebabkan efek samping seperti atrofi kulit, penurunan elastisitas, infeksi kulit, rosacea, akne, serta hipopigmentasi. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan dalam durasi terbatas.

b. Corticosteroid sistemik

Corticosteroid sistemik digunakan untuk mengurangi edema periokular melalui penurunan permeabilitas vaskular dan efek anti-inflamasi sistemik. Dexamethasone terbukti efektif dalam menurunkan edema periokular, bahkan pada dosis intravena rendah (misalnya 8 mg), dengan onset kerja yang cepat dan profil efek samping yang relatif lebih baik dibandingkan prednisone. Prednisone juga dapat digunakan sebagai alternatif, meskipun memiliki onset yang lebih lambat. Namun demikian, penggunaan corticosteroid sistemik berhubungan dengan berbagai efek samping. Penggunaan jangka pendek dapat meningkatkan risiko perdarahan intraoperatif dan nekrosis avaskular, sedangkan penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sistemik seperti gangguan gastrointestinal, perubahan psikologis, infeksi, dan manifestasi dermatologis. Dalam praktik klinis, obat antiinflamasi nonsteroid umumnya digunakan sebagai lini pertama, sedangkan corticosteroid diberikan pada kasus edema yang persisten atau disertai reaksi alergi.

 

2. Non-steroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAIDs)

NSAID merupakan terapi lini pertama dalam penatalaksanaan edema periokular pasca-prosedur. Mekanisme kerjanya melalui inhibisi enzim siklooksigenase (COX-1 dan COX-2), yang mengakibatkan penurunan sintesis prostaglandin dan selanjutnya mengurangi permeabilitas vaskular serta pembentukan edema. Meskipun efektif, penggunaan NSAID memiliki keterbatasan, antara lain harus dihentikan beberapa hari sebelum tindakan medis untuk mengurangi risiko perdarahan atau memar. Selain itu, NSAID dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum, gangguan ginjal, atau hipersensitivitas terhadap obat tersebut.

 

3. Bromelain

Bromelain merupakan enzim proteolitik yang berasal dari nanas dan memiliki efek anti-inflamasi, anti-edema, serta antitrombotik. Mekanisme kerjanya meliputi penghambatan produksi bradikinin, penekanan migrasi leukosit melalui antagonisme reseptor CD128, serta modulasi respons imun melalui peningkatan interleukin-2 dan aktivasi sel T regulator. Secara klinis, bromelain telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi edema periokular, misalnya pada pasien pasca-rhinoplasty. Namun, hasil penelitian masih menunjukkan variasi, sehingga diperlukan studi lebih lanjut untuk memastikan konsistensi efektivitasnya.

 

4. Surgical and Post-procedural Techniques

Berbagai teknik bedah dan pasca-prosedur telah dikembangkan untuk mengurangi edema periokular, khususnya pada tindakan seperti rhinoplasty. Nasal packing merupakan salah satu metode yang sering digunakan, namun hasil penelitian menunjukkan temuan yang tidak konsisten, dengan beberapa studi melaporkan penurunan edema, sementara studi lain menunjukkan peningkatan edema. Teknik lain seperti periosteal elevation juga memberikan hasil yang bervariasi. Pendekatan yang lebih menjanjikan adalah kombinasi corticosteroid dengan kompres saline dingin, yang dilaporkan dapat menurunkan edema secara lebih efektif dibandingkan kontrol.

 

5. Cryotherapy

Cryotherapy merupakan metode yang telah lama digunakan untuk mengurangi edema, eritema, dan memar. Mekanisme utamanya adalah vasokonstriksi serta penurunan rekrutmen sel inflamasi seperti neutrofil dan makrofag, sehingga menghambat kaskade inflamasi. Meskipun efektif, penggunaan cryotherapy harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada area periokular yang memiliki kulit sangat tipis. Penggunaan ice pack konvensional sering kali menghasilkan suhu yang terlalu rendah untuk area ini, sehingga meningkatkan risiko efek samping.

 

6. Mod-Enswell

Mod-Enswell merupakan perangkat cryotherapy inovatif yang dirancang untuk memberikan efek pendinginan yang lebih terkontrol. Alat ini terbuat dari baja bedah dengan permukaan berstruktur tonjolan, yang memungkinkan distribusi tekanan secara merata dan mengurangi risiko trauma jaringan akibat tekanan langsung. Dibandingkan dengan ice pack konvensional, bahan baja menghasilkan penurunan suhu kulit yang lebih moderat, sehingga tetap memberikan manfaat vasokonstriksi tanpa mengganggu aliran darah secara berlebihan. Selain itu, desain permukaan yang tidak rata membantu mengurangi risiko hematoma dan meningkatkan efek vasokonstriksi lokal.

 

Kesimpulan:

Penatalaksanaan edema periokular memerlukan strategi yang komprehensif dan individual, dengan mempertimbangkan etiologi, tingkat keparahan, serta risiko efek samping dari masing-masing terapi. Pendekatan kombinasi antara terapi farmakologis dan non-farmakologis terbukti memberikan hasil yang lebih optimal dalam mempercepat resolusi edema dan mencegah komplikasi lanjutan. Meskipun berbagai modalitas telah tersedia, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan protokol terapi yang paling efektif dan aman, khususnya pada area periokular yang sensitif.

 


Gambar: Ilustrasi

Referensi:

  1. Sami MS, Soparkar CNS, Patrinely JR, Tower RN. Eyelid Edema. Semin Plast Surg. 2007 Feb;21(01):024–31. doi:10.1055/s-2007-967744
  2. Gandhi I, Adler R, Fishman C, Khan F, Albert M. Reducing Periocular Edema: Review and Product Concept. Cureus. 2025 Jan;17(1):e77815. doi:10.7759/cureus.77815 PubMed PMID: 39991426; PubMed Central PMCID: PMC11843588.
Share this article
Related Articles