Register   |  Login
You are here >   News
September 04, 2013 06:15

Allopurinol merupakan terapi lini pertama pada kasus hiperurisemia misalnya pada gout arthritis maupun nefrolitiasis, seperti yang direkomendasikan oleh American College of Rheumatology 2012. Efek samping yang terkadang muncul menurut Seoyoung C. Kim, MD, MSCE, dan kolega dari Brigham and Womens Hospital, Boston, Massachusetts adalah severe cutaneous reaction (SCARs) atau reaksi kulit berat.
 
Dalam studi kohort yang mereka publikasikan secara online, risiko terjadinya SCARs lebih tinggi pada pasien yang mengkonsumsi allopurinol dibandingkan pasien yang tidak menggunakannya (hazard ratio 9,68). Angka mortalitas sebesar 26,7% pada pasien yang dirawat dengan SCARs, dengan risiko 30% lebih tinggi pada pasien yang mengkonsumsi allopurinol dosis tinggi (> 300mg/hari) dibandingkan allopurinol dosis rendah. Pada populasi pengguna allopurinol, SCARs ditemukan jarang, namun sering menjadi fatal, dimana paling sering terjadi dalam 180 hari pertama perawatan.

Risiko terjadinya SCARs 10 kali lebih tinggi pada kelompok allopurinol dibandingkan non allopurinol. Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan data dari 5 program besar Medicaid, dimana telah diidentifikasi 45 pasien yang dirawat dengan SCARs dari 65.625 orang yang di follow up setelah mengkonsumsi allopurinol. Crude incidence ratio (CIR) pada kelompok allopurinol adalah 0,69 per 1000 orang per tahun. Sedangkan CIR pada kelompok non allopurinol adalah 0,04 per 1000 orang per tahun.

Studi tersebut merupakan fakta penting dimana walaupun kebanyakan pasien mentoleransi pemakaian allopurinol, namun reaksi kulit yang serius meningkatkan angka mobiditas dan mortalitas, seperti yang dijelaskan oleh Elizabeth J. Phillips, MD, dimana beliau tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Reaksi kulit serius terhadap pemakaian allopurinol sangat kuat dihubungkan dengan genetic marker HLA-B*58:01, yang dibawa oleh 10%-15% dari populasi Han Chinese dan Asia Tenggara, dan 1%-6% pada populasi kulit putih/Eropa. Walaupun beberapa antigen HLA (human leukocyte antigen) dihubungkan dengan reaksi kulit serius akibat penggunaan allopurinol, beberapa faktor risiko yang dihubungkan dengan hipersensitivitas terhadap allopurinol adalah defisiensi ginjal parsial, penggunaan terus menerus allopurinol, dan penggunaan simultan dengan obat diuretik.

Kelemahan pada studi tersebut termasuk tidak menyelidiki penggunaan obat yang lain yang dapat menyebabkan reaksi kulit berat pada populasi penelitian, seperti obat antikonvulsan, dapsone ataupun sulfonamide, dan dilakukan dengan desain population-based dan observasi, sehingga menimbulkan beberapa keterbatasan dalam menghasilkan kesimpulan, serta penelitian ini didanai oleh perusahaan farmasi tertentu yang sering dapat menimbulkan sejumlah keraguan mengenai kesahihan penelitian tersebut. (PMS)







Image: Ilustrasi 
Referensi:
1. Khanna D, Fitzgerald JD, Khanna PP, Bae S, Singh MK, Neogi T, et al. 2012 American College of Rheumatology Guidelines for Managemnet of Gout. Part 1: Systematic Nonpharmacologic and Pharmacologic Therapeutic Approaches to Hyperuricemia. Arthritis Care & Research. October 2012;64:1431-46.
2. Kim SC, Newcomb C, Margolis D, Roy J, Hennessy S. Severe Cutaneous Reactions Requiring Hospitalization in Allopurinol Initiators: A Population-Based Cohort Study. Arthritis Care & Research April 2013;65(4):578–84.
3. Kelly JC. Allopurinol: Severe Cutaneous Reactions Rare but Serious. (Internet) April 2013 (Cited 2013 August 29). Available from: 
http://www.medscape.com/viewarticle/781923.

Posted in: Doctor News

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.