Oleh admin kalbemed pada August 31, 2018 06:00

Selenium dan Fungsi Kardiovaskuler

Selenium [Se] merupakan suatu trace element yang penting untuk berbagai fungsi biologi termasuk metabolisme hormon tiroid, sistem pertahanan antioksidan tubuh, sistem imun adaptif dan didapat, serta pencegahan kanker tertentu. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa suplementasi Se dapat mempengaruhi dan mengontrol migrasi, adherence, dan fagositosis leukosit. Jika tergabung dalam berbagai selenoenzim, Se meningkatkan kapasitas antioksidan dan mempengaruhi jalur sinyal inflamasi yang memodulasi ROS (reactive oxygen species) dengan menghambat kaskade nuclear factor-kappa B (NF-κB), menyebabkan penekanan produksi interleukin dan tumor necrosis factor alpha (TNF-α).

Kumpulan bukti menunjukkan bahwa Se juga penting untuk fungsi optimal dari sistem kardiovaskuler. Selenium berperan dalam sistem pertahanan yang diinduksi selenoprotein, konsekuensinya, kadar selenium dalam darah telah secara luas digunakan sebagai petanda biologi untuk penyakit terkait stres oksidatif. Stres oksidatif berperan penting dalam penyakit jantung koroner fase akut dan kronik. Pada perkembangan penyakit jantung kronik, penurunan kadar selenium dapat menyebabkan pencegahan oksidasi LDL yang tidak adekuat (yang merupakan penyebab utama plak aterosklerosis), melalui ambilan oleh sel endotel dan makrofag.

Selenium dianggap mempunyai peranan dalam penyakit kardiovaskuler karena efek antioksidannya, namun bukti dari studi observasi dan studi acak dengan kontrol masih tidak konsisten dan kontroversial, oleh karena itu dilakukan suatu meta-analisis untuk menilai perbedaan antara bukti studi observasi dan acak. Data dari MEDLINE dan EMBASE yang dianalisis adalah studi prospektif mengenai kaitan antara Se dan penyakit kardiovaskuler, dan total meliputi 16 studi observasi prospektif dan 16 studi acak dengan kontrol.

Hasilnya meta-analisis studi prospektif menunjukkan adanya kaitan non-linier antara risiko penyakit kardiovaskuler dengan konsentrasi selenium dalam darah dengan kisaran 30-165 mcg/L dan manfaat bermakna pada penyakit kardiovaskuler dalam kisaran kadar selenium 55-145 mcg/L. Studi meta-analisis  menunjukkan bahwa suplementasi Se oral 200 mcg/hari selama 2 minggu hingga 144 bulan secara bermakna meningkatkan konsentrasi Se darah sebesar 56,4 mcg/L, di mana suplemen Se oral dosis median 100 mcg/L selama 6-114 bulan mencegah pada penyakit kardiovaskuler. Hasil meta-analisis pada studi prospektif menunjukkan kaitan terbalik yang bermakna antara status Se dengan risiko penyakit kardiovaskuler. Meskipun peranan suplementasi Se dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler belum dapat disimpulkan, namun penting untuk mengklarifikasi bahwa defisiensi Se berdampak pada kesehatan, khususnya dalam kaitan dengan penyakit kardiovaskuler akut, di mana pasien mengalami peningkatan stres oksidatif. [LAI]



Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Sue Miller, Simon W, John R, Fergus Nicol, Karen P, et al. Selenite protects human endothelial cells from oxidative damage and induces     thioredoxin reductase. Clinical Science 2001;(100):543–50.
2. Benstoem C, Goetsenich A, Kraemer S, Borosch S, Manzanares W, Hardy G, et     al. Review selenium and its supplementation in cardiovascular disease-what do     we know? Nutrients 2015;7:3094-118. doi:10.3390/nu7053094
3. Zhang X, Liu C, Guo J, Song Y. Selenium status and cardiovascular diseases: Meta-analysis of prospective observational studies and randomized controlled trials. Eur J Clin Nutr. 2015. doi: 10.1038/ejcn.2015.78.

Related Articles

Donepezil Aman untuk Lansia dengan Penyakit Jantung Iskemik Penyakit kardiovaskuler sebagian besar terjadi pada populasi usia lanjut yang beberapa di antara juga menderita gangguan fungsi kognitif, sehingga ser...
Studi pada Hewan Coba, Daun kelor Berpotensi sebagai Antidiabetes Daun kelor (Moringa oleifera) sering dijumpai di lingkungan sekitar, terutama di dataran rendah. Dikenal sebagai tanaman asli Indonesia, sedangkan di ...
Level Light Therapy Bermanfaat Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes Ulkus diabetes adalah salah satu jenis ulkus yang sulit mengalami penyembuhan karena ada komplikasi diabetes. Gangguan metabolisme glukosa dan resiste...
Pemberian Obat Metformin pada Diabetesi dengan CKD, Amankah? Selama ini klinisi menghindari pemberian metformin pada pasien diabetes (diabetesi) dengan penyakit ginjal kronik/CKD (chronic kidney disease), karena...
Erdosteine Menurunkan Pelepasan Mediator Inflamasi Pasien PPOK Berat Erdosteine merupakan agen mukolitik yang mempunyai efek antioksidan dan antiinflamasi, yang telah menunjukkan perbaikan fungsi paru, penurunan kadar s...