Oleh admin kalbemed pada June 30, 2018 06:00

Efek Pemanis Sukralosa Terhadap Sekresi Insulin dan GLP-1

Peningkatan kejadian diabetes melitus tipe-2 dan obesitas, memicu non-nutritive sweeteners (NNS) menjadi pilihan sebagai gula tambahan karena tidak mengandung kalori. Namun dari studi yang ada, penggunaan NNS dicurigai dapat meningkatkan risiko penambahan berat badan, sindrom metabolik, dan diabetes melitus tipe 2.

Terdapat beberapa mekanisme yang dapat menginduksi NNS menjadi penyebab intoleransi glukosa. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa NNS dapat mengganggu pelepasan insulin, gut hormones, dan neurotransmiter melalui interaksi dengan sweet taste receptors (T1R2/T1R3) yang diekspresikan melalui saluran cerna. Sweet taste receptors ini juga diekspresikan melalui beberapa organ meliputi otak, lidah, sistem pernafasan, pankreas, hati, jaringan adiposa, kandung kemih dan testis. Berdasarkan penelitian in vitro sebelumnya disebutkan bahwa aktivasi sweet taste receptors di sel beta pankreas terlibat pada sekresi insulin fase pertama. Meskipun, mekanisme sweet taste receptors tidak diketahui sepenuhnya.

Salah satu NNS yang disetujui oleh US Food and Drug Administration dan digunakan secara luas adalah sukralosa. Beberapa penelitian pada manusia menunjukkan paparan tunggal sukralosa dapat berpengaruh pada glikemik, insulin, dan respon sekretin pada saat diberikan beban glukosa. Sebaliknya, penelitian lain menujukkan tidak ada efek yang ditimbulkan oleh sukralosa.

Salah satu studi terbaru tentang sukralose telah dipublikasikan dalam Jurnal Nutrition dan European Journal of Clinical Nutrition. Dalam studi tersebut, disebutkan untuk menentukan efek dari paparan kronik sukralosa terhadap respon glikemik, sekresi dan sensitivitas insulin, pelepasan GLP-1 pada subyek sehat. Subyek yang direkrut adalah orang sehat yang tidak menggunakan NNS dan normoglikemia setelah dilakukan oral glucose tolerance test (OGTT). Subyek yang telah menjalani OGTT sebanyak 75 gram tersebut dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok perlakuan diberikan tablet yang mengandung sukralosa 200 mg dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo.

Parameter dinilai setelah 4 minggu intervensi. Parameter yang dinilai adalah glukosa plasma, insulin, kadar GLP-1 aktif. Hasilnya menunjukkan bahwa respon insulin akut secara bermakna lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Sensitivitas insulin yang dinilai menggunakan Matsuda index secara bermakna lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol. Area under the curve (AUC) dari GLP-1 secara bermakna lebih tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol. [LAI]

Berdasarkan studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa pemberian sukralosa 200 mg sehari selama 4 minggu menyebabkan penurunan respon dan sensitivitas insulin, serta meningkatkan pelepasan GLP-1, walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut dengan tindaklanjut yang lebih lama untuk membuktikan efek tersebut.  


Image: Ilustrasi
Referensi:
1.Amornpan L, Sasinee S, Sunee S, Suwannee C, La-or C, Chatvara A, et al. Effects of Sucralose on Insulin and GLP-1 Secretion in Healthy Subjects: A Randomized Double-Blind, Placebo Controlled Trial. Nutrition 2018. doi.org/10.1016/j.nut.2018.04.001.
2.Ford HE, Peters V, Martin NM, et al. Effects of oral ingestion of sucralose on gut hormone response and appetite in healthy normal-weight subjects. European Journal of Clinical Nutrition. 2011;65:508-13.

Related Articles

Konsumsi Kopi Bermanfaat untuk Kesehatan Organ Hati. Kopi adalah minuman kedua tersering yang paling populer di dunia setelah air putih dan telah dikonsumsi selama berabad-abad sebelumnya. Diketahui bahw...
Kadar Zinc Rendah, Memperburuk Pasien Stroke Zinc merupakan salah satu trace elements terbanyak di dalam tubuh. Yang kedua adalah besi, menjadi perantara beberapa fungsi fisiologi penting dan ber...
Koreksi Magnesium Plasma, Memperbaiki Gejala Depresi Magnesium merupakan kation intraseluler kedua dan elemen terbanyak keempat di dalam tubuh. Magnesium mempunyai peranan yang kompleks di dalam tubuh, o...
Kombinasi EGF dan FGF Bermanfaat Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes Ulkus diabetes adalah ulkus yang terjadi akibat faktor risiko diabetes yang tidak terkontrol. Lokasi yang paling berisiko untuk mengalami ulkus diabet...
Penggunaan Obat Metformin pada Diabetesi dengan CKD, Amankah? Selama ini klinisi menghindari pemberian metformin pada pasien diabetes (diabetesi) dengan penyakit ginjal kronik/CKD (chronic kidney disease), karena...

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.