Kunyit Bermanfaat dalam Mengontrol Kondisi Pasien Asma pada Anak dan Remaja
Tuesday, October 29, 2019

Kunyit Bermanfaat dalam Mengontrol Kondisi Pasien Asma pada Anak dan Remaja

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering ditemukan, yang ditandai dengan hiperesponsivitas bronkus, keterbatasan aliran udara, dan remodelling jalan napas. Gejala asma meliputi episode mengi, sesak napas, dan batuk. Terapi asma bertujuan mengontrol inflamasi dalam jangka panjang, menjaga agar gejala minimal, dan memperbaiki fungsi paru. Obat utama yang digunakan untuk kontrol jangka panjang adalah corticosteroid inhalasi dan agonis beta-adrenergik kerja panjang (LABA) inhalasi. Corticosteroid dan agonis beta-adrenergik kerja singkat (SABA) oral digunakan untuk serangan asma. Sebagian pasien mengalami kontrol penyakit yang baik, namun masih banyak pasien yang tidak. Paparan kronik terhadap corticosteroid juga dapat menyebabkan efek samping yang serius, khususnya pada anak. Oleh karena itu, diperlukan obat baru yang aman dan efektif untuk asma.

Curcuma longa (kunyit, Zingiberaceae) merupakan tanaman sepanjang tahun, yang tumbuh secara luas di Asia dan negara tropis. Karakterisik warna kuning emas pada C.longa disebabkan karena adanya curcuminoid [curcumin (75-81%), dexmethoxycurcumin (15-19%, dan bisdemethoxycurcumin (2,2-6,6%)]. Terdapat bukti bahwa campuran curcuminoid lebih efektif dibanding masing-masing.

Curcumin memiliki beberapa aktivitas biologis seperti antiinflamasi, antibakteri, antivirus, antijamur, antioksidan, penyembuhan luka, dll. Curcumin memodulasi respons inflamasi dan pelepasan sitokin dengan menekan aktivasi nuclear factor kappa-B (NF-kB), melalui penghambatan fosforilasi dan degradasi NF-κB inhibitor alpha (I-κBα) dan blokade fosforilasi I-κBα kinase (IKKα). Sifat ini membuat curcumin menjadi obat yang menjanjikan untuk terapi berbagai penyakit inflamasi, termasuk asma

Studi acak sebelumnya telah menunjukkan efikasi dan keamanan curcumin sebagai terapi tambahan pada 60 pasien dewasa dengan asma bronkial ringan hingga sedang, di mana kapsul curcumin 500 mg dengan pemberian 2 kali sehari membantu memperbaiki obstruksi jalan napas yang dibuktikan dengan perbaikan nilai FEV1 (the forced expiratory volume in one second) rata-rata secara bermakna. Selain itu, juga ditemukan perbaikan parameter hematologi dan tidak adanya efek samping yang bermakna secara klinis yang menunjukkan profil keamanan kapsul curcumin

Selanjutnya dilakukan suatu studi untuk menguji hipotesis bahwa pada anak dan remaja dengan asma persisten, pemberian serbuk akar C. longa selama 6 bulan sebagai tambahan terapi standar dapat menghasilkan kontrol penyakit yang lebih baik dibanding plasebo. Studi fase II tersebut dilakukan secara acak, tersamar ganda, dengan kontrol plasebo. Pasien mendapat C. longa 30 mg/kg/hari atau plasebo selama 6 bulan. Semua pasien dikategorikan untuk derajat asma menurut GINA 2016 dan uji fungsi paru.

Hasilnya pada kedua kelompok (total 34 peserta) mengalami perbaikan frekuensi gejala dan pengaruhnya pada aktivitas normal, tetapi tidak ada perbedaan antara kedua kelompok. Namun, pasien yang mendapat C.longa lebih jarang bangun saat malam hari, lebih jarang menggunakan obat SABA, dan kontrol penyakit yang lebih baik dibanding plasebo setelah 3 dan 6 bulan. 

Kesimpulan: Serbuk akar C.longa sebagai tambahan terapi standar asma pada anak dan remaja dengan asma sedang dan berat, memberikan perbaikan gejala dan kontrol penyakit yang lebih baik dibanding plasebo.

Image : <a href="https://www.freepik.com/free-photos-vectors/background">Background photo created by jigsawstocker - www.freepik.com</a>
Referensi:
1. Manarin G, Anderson D, Silva JME, Coppede JDS, Roxo-Junior P, Pereira AMS, et al. Curcuma longa L. ameliorates asthma control in children and adolescents: A randomized, double-blind, controlled trial. J Ethnopharmacol. 2019;238:111882. doi: 10.1016/j.jep.2019.111882. 
2. Abidi A, Gupta S, Agarwal M, Bhalla HL, Saluja M. Evaluation of efficacy of curcumin as an add-on therapy in patients of bronchial asthma. J Clin Diagn Res. 2014;8(8):19–24.

Please login or register to post comments.