Efektivitas dan Keamanan Mycophenolate Mofetil sebagai Pengobatan Pasien Lupus Nefritis
Friday, March 15, 2019

Efektivitas dan Keamanan Mycophenolate Mofetil sebagai Pengobatan Pasien Lupus Nefritis

Penyakit lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun multisistem yang ditandai dengan adanya produksi autoantibodi. SLE berdampak pada kualitas hidup yang buruk, tingkat kesakitan, dan tingkat kematian yang disebabkan karena penyakit atau komplikasi pengobatan.

Lupus nephritis (LN), atau peradangan pada ginjal yang terjadi akibat penyakit lupus, terjadi pada hampir setengah dari pasien yang menderita SLE, yang memicu terjadinya penyakit ginjal tahap akhir sebesar 5-10% pada 10 tahun terakhir. Diagnosis LN memerlukan pemeriksaan biopsi ginjal untuk menentukan klasifikasi histologi berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO), International Society of Nephrology, dan Renal Pathology Society (ISN/RPS). Pengobatan LN biasanya melibatkan induksi yang intensif pada fase remisi (pengobatan induksi) diikuti dengan fase pemeliharaan.

Siklofosfamid yang biasanya digunakan bersamaan dengan kortikosteroid sebagai pengobatan lini pertama untuk induksi terhadap remisi penyakit mempunyai angka harapan hidup yang meningkat sampai dengan 90%. Namun, responsnya lambat dan adanya risiko efek samping. Pada tahun 2004 muncul review terkait berbagai macam senyawa baru yang berfungsi sebagai imunosupresan, seperti mycophenolate mofetil (MMF), tacrolimus, dan rituximab sebagai pengobatan alternatif yang mempunyai toksisitas lebih rendah dengan efektivitas yang baik. Penelitian ini membandingan efek imunosupresan yang baru (MMF) dengan yang sudah ada (siklofosfamid) terhadap pengobatan induksi dan pemeliharaan pada LN. Desain dan metodenya adalah review sistematis dan meta-analisis yang mengumpulkan penelitian RCT dari database MEDLINE (1966-2012), EMBASE (1988-2011), dan Cochrane Renal Group Specialised Register.

Dari 45 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pengobatan induksi (n=2559) dan kelompok pemeliharaan (n=514). Pada kelompok induksi dibandingkan antara MMF dan siklofosfamid intravena, dan hasilnya tidak berbeda bermakna terhadap tingkat kematian, insidens terjadinya penyakit ginjal kronik terminal, remisi ginjal, dan relaps ginjal. Pasien yang diberi MMF mempunyai risiko terjadinya ovarian failure dan alopesia yang lebih rendah secara bermakna. Pada kelompok pemeliharaan, azathioprine mempunyai risiko relaps yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan MMF.

Simpulan:

Berdasarkan penelitian meta-analisis disebutkan bahwa MMF mempunyai efektivitas yang sama dengan siklofosfamid untuk pengobatan induksi ataupun pemeliharaan pada LN. Selain itu, MMF juga lebih aman karena kejadian efek samping yang lebih rendah. (dr. Laurencia Ardi)

 

Image : Ilustrasi

Referensi:

1. Henderson LK, Masson P, Craig JC, Roberts MA, Flanc RS, Strippoli GFM, et al. Induction and maintenance treatment of proliferative lupus nephritis: A meta-analysis of randomized controlled trials. Am J Kidney Dis. 2012;61(1):74-87.

2. Sahin A. Mycophenolate mofetil in the treatment of systemic lupus erythematosus. Eurasian J Med. 2009;41(3):180–5.

Please login or register to post comments.