Efektivitas Norepinephrine untuk Pasien dengan Acute Heart Failure (AHF)
Monday, February 18, 2019

Efektivitas Norepinephrine untuk Pasien dengan Acute Heart Failure (AHF)

Pasien dengan gagal jantung akut (acute heart failure/ AHF) mengalami tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. AHF merupakan sindroma klinis yang disebabkan terganggunya pengisian bilik jantung atau berkurang drastisnya ejeksi fraksi jantung yang mengakibatkan kegagalan distribusi (maldistribusi) atau tertimbunnya (retensi) cairan. Tatalaksana AHF difokuskan pada jenis AHF dan patofisiologi yang mendasarinya.

Pada pasien dengan AHF hipotensif, hipotensi merupakan temuan prognostik yang buruk dengan angka kematian tinggi. Resusitasi segera diperlukan dengan inisiasi agen inotropik. Direkomendasikan pemberian bolus cairan dalam jumlah kecil (250-500 mL) sebelum pemberian agen inotropik. Norepinephrine dapat diberikan secara inisial untuk meningkatkan tekanan darah dan preload pada keadaan hipotensi (yang serpa syok septik) dengan menghasilkan vasokonstriksi dan meningkatkan efek inotropik.

Dalam kondisi ini, norepinephrine merupakan pilihan yang unggul dibandingkan epinefrin (berisiko lebih tinggi untuk syok refrakter: hipotensi menetap, penurunan perfusi ­end-organ,hiperlaktatemia serta dosis tinggi inotropic dan vasopressor) dan dopamine (berisiko efek samping lebih besar) yang biasanya digunakan pada kasus hipotensi dan syok kardiogenik. Penelitian SOAP III mengevaluasi pasien dengan syok umum, termasuk syok kardiogenik, dengan hasil menganjurkan norepinephrine berkaitan dengan perbaikan luaran, meliputi penurunan mortalitas dan risiko disritmia dibandingkan dopamine.

 

Simpulan:

Pada tatalaksana darurat beberapa jenis gagal jantung akut (acute heart failure/ AHF), bukti ilmiah merekomendasikan pemberian norepinephrine, khususnya pada AHF hipotensif dengan syok kardiogenik, dan gagal jantung luaran-tinggi (high-output HF). Norepinephrine merupakan pilihan yang unggul dibandingkan epinefrin (berisiko lebih tinggi untuk syok refrakter: hipotensi menetap, penurunan perfusi ­end-organ,hiperlaktatemia serta dosis tinggi inotropic dan vasopressor) dan dopamine (berisiko efek samping lebih besar) yang biasanya digunakan pada kasus hipotensi dan syok kardiogenik. (dr. Jane Cherub)

 

Image : Ilustrasi

Referensi:

Long BKoyfman AGottlieb M. Management of Heart Failure in the Emergency Department Setting: An Evidence-Based Review of the Literature. J Emerg Med. 2018 Nov;55(5):635-46.

Please login or register to post comments.