Bagaimana Memerangi Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik?

Bagaimana Memerangi Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik?

Sejak antibiotik tersedia secara luas sekitar 50 tahun yang lalu, antibiotik dianggap sebagai obat ajaib yang mampu menghancurkan bakteri penyebab penyakit. Namun, setiap dekade, bakteri menjadi resisten tidak hanya terhadap satu macam antibiotik saja, namun beberapa antibiotik, hal ini membuat beberapa penyakit infeksi yang sangat sulit diobati, telah menjadi semakin meluas.

Sejak antibiotik tersedia secara luas sekitar 50 tahun yang lalu, antibiotik dianggap sebagai obat ajaib yang mampu menghancurkan bakteri penyebab penyakit. Namun, setiap dekade, bakteri menjadi resisten tidak hanya terhadap satu macam antibiotik saja, namun beberapa antibiotik, hal ini membuat beberapa penyakit infeksi yang sangat sulit diobati, telah menjadi semakin meluas.

Beberapa bakteri telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik secara alami, jauh sebelum berkembangnya antibiotik komersial. Bakteri bisa menjadi resisten terhadap antibiotik melalui beberapa cara. Mereka mungkin mengalami resistensi terhadap antibiotik tertentu secara spontan melalui mutasi. Selain itu, bakteri juga bisa mendapatkan gen resistensi antibiotik melalui pertukaran gen dengan bakteri lain. Bakteri bereproduksi dengan cepat, memungkinkan sifat resisten menyebar dengan cepat ke generasi bakteri di masa depan.

Keberhasilan memerangi resistensi bakteri terhadap antibiotik bergantung pada kerja sama banyak pihak, seperti lembaga kesehatan pemerintah, universitas, perusahaan farmasi, profesional kesehatan, produsen pertanian , dan publik. Semua kelompok ini harus bekerja sama jika masalah resistensi antibiotik mau berhasil diatasi. Ada dua hal yang perlu dilakukan: memfasilitasi pengembangan antibiotik baru sekaligus menjaga efikasi antibiotik yang sudah ada dan yang baru.

Penyebab dokter meresepkan antibiotik secara berlebihan meliputi: ketidakpastian diagnostik, tekanan waktu pada dokter, dan permintaan pasien. Mungkin lebih mudah dokter menekankan waktu untuk menulis resep antibiotik daripada menjelaskan mengapa lebih baik tidak menggunakannya. Meminum antibiotik sesuai petunjuk resep juga penting. Orang tidak boleh melewatkan dosis atau berhenti minum antibiotik begitu mereka merasa lebih baik. Mereka harus menyelesaikan pengobatan secara penuh. Jika tidak, obat tersebut mungkin tidak membunuh semua bakteri penyebab infeksi, sehingga bakteri yang tersisa dapat menjadi resisten.

Hal lain yang turut berkontribusi dalam timbulnya infeksi yang resistan terhadap antibiotik adalah meningkatnya penggunaan sabun, deterjen, lotion, dan barang-barang rumah tangga antibakteri lainnya. Tidak pernah ada bukti yang menyatakan bahwa mereka memiliki manfaat terhadap kesehatan masyarakat. Sabun biasa dan air yang bersih sudah cukup. Produk-produk antibakteri sebaiknya hanya disediakan untuk pengaturan rumah sakit, untuk orang sakit yang pulang dari rumah sakit, dan untuk orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu. [dr. Johan Indra L.]

 

Image: Ilustrasi
Referensi:  FDA. Battle of the Bugs: Fighting Antibiotic Resistance. Last updated:. 2016 [cited 2017 November 25]. Available from: https://www.fda.gov/Drugs/ResourcesForYou/Consumers/ucm143568.htm

Download

About CDK

Majalah CDK (Cermin Dunia Kedokteran) adalah majalah kedokteran yang telah dipublikasikan sejak tahun 1974 dan terbit setiap bulan. CDK menyajikan informasi-informasi kedokteran yang mutakhir, serta mendukung perkembangan dunia kedokteran di Indonesia. Dari tahun ke tahun, CDK terus memantapkan diri sebagai salah satu referensi ilmiah yang praktis dan terpercaya.

Saat ini CDK bekerjasama dengan PB IDI, dan PP IAI, di mana pada setiap edisi CDK terdapat artikel yang berbobot poin SKP, yaitu CME bagi dokter dan CPD bagi apoteker. Artikel yang dipublish di majalah CDK akan terindeks di google scholar.

 

Bagi sejawat sekalian yang ingin mengirimkan naskah ilmiah ke majalah CDK, baik berupa hasil penelitian, tinjauan pustaka, maupun laporan kasus, silahkan dapat mengirimkannya melalui email atau alamat berikut ini:

 

Redaksi CDK Gedung Kalbe III Lt. 2

Jl. Letjend. Suprato Kav. 4, Cempaka Putih – Jakarta 10510.

Telepon : 021-4208171

Fax : 021-42873685

Email : cdk.redaksi@gmail.com

Please login or register to post comments.

Toksin Botulinum untuk Atasi Depresi, Bagaimana Caranya?

Toksin Botulinum untuk Atasi Depresi, Bagaimana Caranya?

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu sejak adanya laporan bahwa toksin botulinum (BoNT-A) dapat digunakan untuk mengatasi/meringankan depresi. Saat ini, terapi BONTA digunakan untuk masalah-masalah dermatologi, namun sejak dicetuskan dapat digunakan untuk masalah depresi sudah terdapat beberapa laporan kasus

Massa Otot Usia Paruh Baya, Terkait Dengan Risiko Kardiovaskuler Masa Depan

Massa Otot Usia Paruh Baya, Terkait Dengan Risiko Kardiovaskuler Masa Depan

Tingkat massa otot tanpa lemak yang lebih tinggi pada usia paruh baya dapat dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular (CVD) 10-tahun yang lebih rendah, terlepas dari faktor risiko tradisional seperti diet, pendapatan, merokok, obesitas

Pro-Kon Multivitamin Intravena, Sebaiknya Bagaimana?

Pro-Kon Multivitamin Intravena, Sebaiknya Bagaimana?

Terapi mikronutrien intravena mendapatkan popularitas yang tinggi setelah dipioneerkan oleh Dr. John Myers yang rutin memberikan infus iv yang mengandung campuran vitamin dan nutrisi untuk